Sejarah Punk Menurut Malcolm McLaren

Standar

Sejarah dan asal mula budaya punk dijelaskan oleh Malcolm McLaren dengan cara menceritakan masa kecilnya yang penuh dengan kenakalan. Konon ketika Malcolm masih kecil, dia pernah memotong ekor sebuah kuda-kudaan di taman bermain kanak-kanak, menyalakan petasan di dalam rumahnya dan salah satu yang terparah adalah dia juga pernah merobek buku-buku tugas sekolah sehingga pada usia 5 tahun dia di keluarkan dari sekolahnya.

Namun, kejadian tersebut tidak  membuat Malcolm berubah. Kurang lebih pada usia 9 tahun, dia kembali ke bangku sekolah. Malcolm tetap menjadi siswa yang sempurna untuk disebut nakal dan suka memberontak. Dia sering mendapat hukuman atas kelakuan nakalnya, namun hukuman-hukuman tersebut malah menjadi sebuah kebanggaan bagi  jiwa pemberontaknya. Dia menikmati cemoohan orang lain dan menganggapnya sebagai sebuah kebutuhan. Ketika sesuatu berjalan dengan baik, dia selalu terpanggil untuk merubah dan merusaknya.

Suatu waktu ia mendengar sebuah music Rock n Roll (Rock Around the Clock), dan terinspirasi teddy boy bahwa seseorang tidak hanya bisa menjadi buruk, akan tetapi juga menjadi kelihatan buruk  bagi orang lain atau bahkan lebih buruk lagi. Seseorang dapat menjadi benar-benar berbeda dengan orang kebanyakan hanya berbekal dari penampilannya. Oleh karena itu, ketika pada waktu itu anak muda pada umumnya memuja dan mengagung-agungkan  produk-produk fashion  “kelas atas” seperti Levis, Adidas, Nike dan sebagainya, dia membuat pakaian-pakain nyeleneh sebagai salah satu bentuk pemberontakannya pada masa The Sex Pistol. Salah satu contoh adalah kaos yang dia buat dengan bertuliskan slogan “fuck your mother and run away”. Meskipun dia tidak pernah benar-benar melakukan apa yang ia tuliskan dalam slogan tersebut, dia sangat menikmati isi slogan itu.

Ketika Malcolm menapaki usia dewasa, dia melanjutkan sekolah tingginya di sekolah seni. Jiwa pemberontaknya juga muncul terhadap fakta kekaguman orang terhadap warna putih dalam setiap karya seni, bagi dia adalah sebaliknya, hitam adalah warna yang paling indah dan melambangkan  perlawanan, tidak dapat diatur dan dikontrol. Bisa dikatakan, dia menemukan keterwakilan pemberontakannya terhadap kenormalan dalam warna hitam yang kemudian menjadi identitas kaum punk.

 

 

Lebih lanjut Malcolm menjelaskan bahwa The Sex Pistol adalah jiwa dan sumber inspirasinya, dimana dia berjuang dan bergerak menentang kemapanan. Ketika segala hal yang ia buat muali bergerak mapan, maka dengan segera da akan menghancurkannya dan kemudian merubahnya dengan hal lain.

Kemudian semua hal mulai menjadi membingungkan ketika filosofi “ketidakmapanan” dan “ketidaknormalan “ yang ia perjuangkan kemudian diterima dan juga dipakai oleh industri fashion dan music, sehingga hal itu lama-kelamaan dianggap sebagai sebuah bentuk kenormalan. Hingga pada akhirnya ia menyebutkan bahwa The Sex Pistol tidak lagi bermakna karena lirik dan isinya hanya berbicara tentang kematian sesuatu. Punk sejatinya adalah selalu hadir sebagai “bad entertainment” yang murni anti-kemapanan dan aturan. Namun, pada akhirnya definisi dari kata “bad” itu sendiripun meluas dan membingungkan, karena “bad” yang ia perjuangkan kini berbeda tipis dengan “good” yang ia benci, atau malah hampir sama, bahkan Malcolm pernah berpikir bahwa seseorang mungkin akan lebih baik jika tidak terlihat “bad”. Mungkin juga, hal itu adalah salah satu cara yang ia pakai untuk bertahan dalam ketidaknormalan yang kian membingungkan.

 

 

Melihat dari sejarah awal berdirinya punk dapat disimpulkan bahwa gaya hidup dan pola pikir para pendahulu punk identik dengan dandanan nyleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi sekitar secara terang-terangan, berpenampilan sebagai seseorang yang berkualitas rendah dan menentang kemapanan gaya hidup. Mereka meyakini bahwa hebohnya penampilan harus disertai dengan hebohnya pemikiran.

 

 

 

Ideologi punk yang berkembang atas buah kekecewaan terhadap ketimpangan dan kemapanan mulai juga merambah Indonesia. Bertebarannya took-toko distro seperti Bandung Sport, The Reds adalah adalah reaksi terhadap serbuan merk-merk barat yang mendominasi dunia fashion lokal. Kita temukan juga beberapa grup band Indonesia yang identik dengan ideology punk bermunculan. Hal itu dapat kita lihat dari lirik lagu-lagu mereka yang banyak menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat. Lagu-lagu mereka lebih mirip seperti teriakan protesterhadap ketimpangan. Adapun beberapa band anarko-punk yang cukup populer antara lain Marjinal, Bunga Hitam, dan lain sebagainya.

 

 

Sumber:

Punk and History by Malcolm McLaren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s