MUHAMMAD: DARI KELAHIRAN SAMPAI PERKAWINANNYA

Standar
  Perkawinan Abdullah dengan Aminah - Abdullah wafat -
   Muhammad lahir disusukan oleh Keluarga Sa'd - Kisah
   dua malaikat - Lima tahun selama tinggal di pedalaman
   - Aminah wafat - Di bawah asuhan Abd'l-Muttalib -
   Abd'l-Muttalib wafat - Di bawah asuhan Abu Talib -
   Pergi ke Suria dalam usia dua belas tahun- Perang
   Fijar - Menggembala kambing - Ke Suria membawa
   dagangan Khadijah - Perkawinannya dengan Khadijah

USIA Abd'l-Muttalib sudah  hampir  mencapai  tujuhpuluh  tahun
atau   lebih   tatkala  Abraha  mencoba  menyerang  Mekah  dan
menghancurkan Rumah Purba. Ketika itu  umur  Abdullah  anaknya
sudah duapuluh empat tahun, dan sudah tiba masanya dikawinkan.
Pilihan Abd'l-Muttalib jatuh kepada Aminah bint Wahb  bin  Abd
Manaf  bin Zuhra, - pemimpin suku Zuhra ketika itu yang sesuai
pula usianya dan mempunyai kedudukan terhormat. Maka  pergilah
anak-beranak  itu hendak mengunjungi keluarga Zuhra. Ia dengan
anaknya menemui Wahb dan melamar puterinya.  Sebagian  penulis
sejarah  berpendapat,  bahwa  ia  pergi  menemui  Uhyab, paman
Aminah, sebab waktu itu ayahnya sudah  meninggal  dan  dia  di
bawah  asuhan  pamannya.  Pada hari perkawinan Abdullah dengan
Aminah itu, Abd'l-Muttalib  juga  kawin  dengan  Hala,  puteri
pamannya.  Dari perkawinan ini lahirlah Hamzah, paman Nabi dan
yang seusia dengan dia.

Abdullah dengan Aminah  tinggal  selama  tiga  hari  di  rumah
Aminah,  sesuai  dengan  adat  kebiasaan  Arab bila perkawinan
dilangsungkan di rumah keluarga pengantin puteri. Sesudah  itu
mereka  pindah  bersama-sama  ke  keluarga Abd'l-Muttalib. Tak
seberapa lama kemudian Abdullahpun  pergi  dalam  suatu  usaha
perdagangan  ke  Suria  dengan  meninggalkan isteri yang dalam
keadaan hamil. Tentang ini masih terdapat beberapa  keterangan
yang  berbeda-beda:  adakah  Abdullah kawin lagi selain dengan
Aminah;  adakah  wanita  lain  yang  datang  menawarkan   diri
kepadanya?     Rasanya    tak    ada    gunanya    menyelidiki
keterangan-keterangan semacam ini. Yang pasti  ialah  Abdullah
adalah  seorang  pemuda  yang tegap dan tampan. Bukan hal yang
luar biasa jika ada wanita lain yang ingin  menjadi  isterinya
selain  Aminah. Tetapi setelah perkawinannya dengan Aminah itu
hilanglah harapan yang lain walaupun  untuk  sementara.  Siapa
tahu,   barangkali   mereka  masih  menunggu  ia  pulang  dari
perjalanannya ke  Syam  untuk  menjadi  isterinya  di  samping
Aminah.

Dalam  perjalanannya  itu  Abdullah  tinggal  selama  beberapa
bulan. Dalam pada itu ia pergi juga ke Gaza dan kembali  lagi.
Kemudian  ia  singgah  ke  tempat  saudara-saudara  ibunya  di
Medinah sekadar beristirahat sesudah merasa letih selama dalam
perjalanan.  Sesudah itu ia akan kembali pulang dengan kafilah
ke Mekah. Akan tetapi kemudian ia menderita  sakit  di  tempat
saudara-saudara  ibunya  itu.  Kawan-kawannyapun  pulang lebih
dulu meninggalkan dia. Dan merekalah yang menyampaikan  berita
sakitnya itu kepada ayahnya setelah mereka sampai di Mekah.

Begitu  berita sampai kepada Abd'l-Muttalib ia mengutus Harith
- anaknya yang sulung - ke  Medinah,  supaya  membawa  kembali
bila  ia  sudah  sembuh.  Tetapi  sesampainya  di  Medinah  ia
mengetahui bahwa Abdullah sudah meninggal dan sudah dikuburkan
pula,   sebulan   sesudah   kafilahnya   berangkat  ke  Mekah.
Kembalilah Harith kepada keluarganya dengan  membawa  perasaan
pilu  atas  kematian  adiknya itu. Rasa duka dan sedih menimpa
hati Abd'l-Muttalib, menimpa hati Aminah, karena ia kehilangan
seorang  suami  yang  selama  ini  menjadi harapan kebahagiaan
hidupnya. Demikian juga Abd'l-Muttalib sangat sayang kepadanya
sehingga penebusannya terhadap Sang Berhala yang demikian rupa
belum pernah terjadi di kalangan masyarakat Arab sebelum itu.

Peninggalan Abdullah sesudah  wafat  terdiri  dari  lima  ekor
unta,  sekelompok  ternak kambing dan seorang budak perempuan,
yaitu Umm Ayman - yang kemudian menjadi pengasuh  Nabi.  Boleh
jadi   peninggalan   serupa  itu  bukan  berarti  suatu  tanda
kekayaan; tapi  tidak  juga  merupakan  suatu  kemiskinan.  Di
samping  itu  umur  Abdullah yang masih dalam usia muda belia,
sudah mampu bekerja dan berusaha mencapai kekayaan. Dalam pada
itu  ia  memang tidak mewarisi sesuatu dari ayahnya yang masih
hidup itu.

Aminah sudah hamil, dan kemudian, seperti  wanita  lain  iapun
melahirkan.  Selesai  bersalin  dikirimnya berita kepada Abd'l
Muttalib  di  Ka'bah,  bahwa  ia   melahirkan   seorang   anak
laki-laki.  Alangkah gembiranya orang tua itu setelah menerima
berita. Sekaligus ia teringat kepada Abdullah anaknya. Gembira
sekali  hatinya  karena  ternyata pengganti anaknya sudah ada.
Cepat-cepat ia menemui menantunya itu,  diangkatnya  bayi  itu
lalu  dibawanya  ke  Ka'bah. Ia diberi nama Muhammad. Nama ini
tidak umum di kalangan orang Arab tapi cukup dikenal. Kemudian
dikembalikannya  bayi  itu  kepada  ibunya. Kini mereka sedang
menantikan orang yang akan menyusukannya  dari  Keluarga  Sa'd
(Banu  Sa'd),  untuk  kemudian  menyerahkan anaknya itu kepada
salah seorang dari mereka, sebagaimana sudah menjadi adat kaum
bangsawan Arab di Mekah.

Mengenai  tahun  ketika  Muhammad  dilahirkan,  beberapa  ahli
berlainan pendapat. Sebagian besar mengatakan pada Tahun Gajah
(570  Masehi).  Ibn  Abbas mengatakan ia dilahirkan pada Tahun
Gajah itu. Yang lain berpendapat  kelahirannya  itu  limabelas
tahun sebelum peristiwa gajah. Selanjutnya ada yang mengatakan
ia dilahirkan beberapa hari  atau  beberapa  bulan  atau  juga
beberapa  tahun  sesudah  Tahun  Gajah. Ada yang menaksir tiga
puluh tahun, dan ada  juga  yang  menaksir  sampai  tujuhpuluh
tahun.

Juga para ahli berlainan pendapat mengenai bulan kelahirannya.
Sebagian besar mengatakan ia dilahirkan bulan Rabiul Awal. Ada
yang  berkata lahir dalam bulan Muharam, yang lain berpendapat
dalam bulan Safar, sebagian lagi menyatakan dalam bulan Rajab,
sementara yang lain mengatakan dalam bulan Ramadan.

Kelainan  pendapat itu juga mengenai hari bulan ia dilahirkan.
Satu pendapat mengatakan pada malam kedua  Rabiul  Awal,  atau
malam   kedelapan,   atau   kesembilan.  Tetapi  pada  umumnya
mengatakan, bahwa dia dilahirkan pada tanggal duabelas  Rabiul
Awal. Ini adalah pendapat Ibn Ishaq dan yang lain.

Selanjutnya   terdapat   perbedaan   pendapat  mengenai  waktu
kelahirannya, yaitu siang atau malam, demikian  juga  mengenai
tempat  kelahirannya di Mekah. Caussin de Perceval dalam Essai
sur  l'Histoire  des   Arabes   menyatakan,   bahwa   Muhammad
dilahirkan bulan Agustus 570, yakni Tahun Gajah, dan bahwa dia
dilahirkan di Mekah di rumah kakeknya Abd'l-Muttalib.

Pada  hari  ketujuh  kelahirannya  itu  Abd'l-Muttalib   minta
disembelihkan   unta.   Hal   ini  kemudian  dilakukan  dengan
mengundang makan masyarakat Quraisy. Setelah mereka mengetahui
bahwa  anak  itu  diberi  nama Muhammad, mereka bertanya-tanya
mengapa ia tidak suka memakai nama nenek  moyang.  "Kuinginkan
dia akan  menjadi  orang  yang Terpuji,1  bagi Tuhan di langit
dan bagi makhlukNya di bumi," jawab Abd'l Muttalib.

Aminah masih menunggu  akan  menyerahkan  anaknya  itu  kepada
salah  seorang  Keluarga  Sa'd  yang  akan menyusukan anaknya,
sebagaimana sudah menjadi kebiasaan  bangsawan-bangsawan  Arab
di    Mekah.    Adat   demikian   ini   masih   berlaku   pada
bangsawan-bangsawan  Mekah.  Pada   hari   kedelapan   sesudah
dilahirkan  anak  itupun  dikirimkan  ke  pedalaman  dan  baru
kembali pulang ke kota sesudah ia berumur delapan atau sepuluh
tahun.  Di  kalangan  kabilah-kabilah  pedalaman yang terkenal
dalam menyusukan ini di antaranya  ialah  kabilah  Banu  Sa'd.
Sementara masih menunggu orang yang akan menyusukan itu Aminah
menyerahkan anaknya kepada Thuwaiba, budak perempuan pamannya,
Abu  Lahab. Selama beberapa waktu ia disusukan, seperti Hamzah
yang juga kemudian disusukannya. Jadi  mereka  adalah  saudara
susuan.

Sekalipun  Thuwaiba hanya beberapa hari saja menyusukan, namun
ia tetap memelihara hubungan yang baik sekali selama hidupnya.
Setelah  wanita  itu  meninggal  pada tahun ketujuh sesudah ia
hijrah ke Medinah,  untuk  meneruskan  hubungan  baik  itu  ia
menanyakan  tentang  anaknya yang juga menjadi saudara susuan.
Tetapi kemudian  ia  mengetahui  bahwa  anak  itu  juga  sudah
meninggal sebelum ibunya.

Akhirnya  datang  juga  wanita-wanita  Keluarga Sa'd yang akan
menyusukan itu ke Mekah. Mereka memang mencari bayi yang  akan
mereka  susukan.  Akan  tetapi  mereka  menghindari  anak-anak
yatim. Sebenarnya mereka masih mengharapkan sesuatu jasa  dari
sang  ayah.  Sedang  dari  anak-anak yatim sedikit sekali yang
dapat mereka harapkan. Oleh karena itu di  antara  mereka  itu
tak  ada  yang  mau  mendatangi Muhammad. Mereka akan mendapat
hasil yang lumayan bila mendatangi keluarga yang dapat  mereka
harapkan.

Akan tetapi Halimah bint Abi-Dhua'ib yang pada mulanya menolak
Muhammad, seperti yang lain-lain juga, ternyata tidak mendapat
bayi  lain  sebagai gantinya. Di samping itu karena dia memang
seorang  wanita  yang  kurang  mampu,  ibu-ibu  lainpun  tidak
menghiraukannya.  Setelah  sepakat  mereka  akan  meninggalkan
Mekah. Halimah berkata kepada Harith bin Abd'l-'Uzza suaminya:
"Tidak  senang  aku pulang bersama dengan teman-temanku tanpa
membawa seorang bayi. Biarlah aku pergi kepada anak yatim  itu
dan akan kubawa juga."

"Baiklah,"  jawab  suaminya.  "Mudah-mudahan  karena itu Tuhan
akan memberi berkah kepada kita."

Halimah  kemudian  mengambil  Muhammad  dan  dibawanya   pergi
bersama-sama   dengan   teman-temannya   ke   pedalaman.   Dia
bercerita, bahwa sejak diambilnya anak itu ia merasa  mendapat
berkah.   Ternak   kambingnya   gemuk-gemuk   dan   susunyapun
bertambah. Tuhan telah memberkati semua yang ada padanya.

Selama dua tahun Muhammad tinggal di  sahara,  disusukan  oleh
Halimah  dan  diasuh oleh Syaima', puterinya. Udara sahara dan
kehidupan pedalaman yang  kasar  menyebabkannya  cepat  sekali
menjadi  besar,  dan  menambah  indah  bentuk  dan pertumbuhan
badannya. Setelah cukup dua tahun dan  tiba  masanya  disapih,
Halimah  membawa  anak  itu  kepada  ibunya  dan  sesudah  itu
membawanya kembali ke  pedalaman.  Hal  ini  dilakukan  karena
kehendak  ibunya,  kata sebuah keterangan, dan keterangan lain
mengatakan karena kehendak Halimah sendiri. Ia dibawa  kembali
supaya  lebih  matang,  juga  memang  dikuatirkan  dari adanya
serangan wabah Mekah.

Dua tahun lagi anak itu tinggal  di  sahara,  menikmati  udara
pedalaman  yang  jernih  dan bebas, tidak terikat oleh sesuatu
ikatan jiwa, juga tidak oleh ikatan materi.

Pada masa itu, sebelum usianya  mencapai  tiga  tahun,  ketika
itulah  terjadi  cerita  yang  banyak dikisahkan orang. Yakni,
bahwa  sementara  ia  dengan  saudaranya  yang  sebaya  sesama
anak-anak   itu  sedang  berada  di  belakang  rumah  di  luar
pengawasan keluarganya, tiba-tiba anak yang dari Keluarga Sa'd
itu   kembali   pulang  sambil  berlari,  dan  berkata  kepada
ibu-bapanya: "Saudaraku yang dari Quraisy  itu  telah  diambil
oleh  dua  orang  laki-laki  berbaju  putih.  Dia dibaringkan,
perutnya dibedah, sambil di balik-balikan."

Dan tentang Halimah ini ada juga diceritakan,  bahwa  mengenai
diri  dan suaminya ia berkata: "Lalu saya pergi dengan ayahnya
ke  tempat  itu.  Kami  jumpai  dia  sedang  berdiri.  Mukanya
pucat-pasi. Kuperhatikan dia. demikian juga ayahnya. Lalu kami
tanyakan: "Kenapa kau, nak?" Dia menjawab: "Aku didatangi oleh
dua  orang  laki-laki berpakaian putih. Aku di baringkan, lalu
perutku di bedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Tak tahu
aku apa yang mereka cari."

Halimah dan suaminya kembali pulang ke rumah. Orang itu sangat
ketakutan, kalau-kalau anak itu sudah kesurupan. Sesudah  itu,
dibawanya  anak  itu  kembali  kepada  ibunya  di  Mekah. Atas
peristiwa ini Ibn Ishaq  membawa  sebuah  Hadis  Nabi  sesudah
kenabiannya. Tetapi dalam menceritakan peristiwa ini Ibn Ishaq
nampaknya  hati-hati  sekali  dan   mengatakan   bahwa   sebab
dikembalikannya  kepada  ibunya bukan karena cerita adanya dua
malaikat itu, melainkan - seperti cerita Halimah kepada Aminah
-  ketika  ia di bawa pulang oleh Halimah sesudah disapih, ada
beberapa orang Nasrani  Abisinia  memperhatikan  Muhammad  dan
menanyakan   kepada   Halimah  tentang  anak  itu.  Dilihatnya
belakang anak itu, lalu mereka berkata:

"Biarlah kami bawa anak ini kepada raja kami di  negeri  kami.
Anak  ini  akan menjadi orang penting. Kamilah yang mengetahui
keadaannya." Halimah lalu cepat-cepat menghindarkan diri  dari
mereka  dengan  membawa  anak  itu.  Demikian juga cerita yang
dibawa oleh Tabari, tapi  ini  masih  di  ragukan;  sebab  dia
menyebutkan   Muhammad   dalam   usianya   itu,  lalu  kembali
menyebutkan  bahwa  hal  itu  terjadi   tidak   lama   sebelum
kenabiannya dan usianya empatpuluh tahun.

Baik  kaum  Orientalis  maupun beberapa kalangan kaum Muslimin
sendiri tidak merasa puas dengan cerita dua malaikat  ini  dan
menganggap   sumber  itu  lemah  sekali.  Yang  melihat  kedua
laki-laki (malaikat) dalam cerita penulis-penulis sejarah  itu
hanya  anak-anak  yang  baru  dua tahun lebih sedikit umurnya.
Begitu juga umur Muhammad waktu itu. Akan tetapi sumber-sumber
itu   sependapat   bahwa  Muhammad  tinggal  di  tengah-tengah
Keluarga Sa'd itu sampai mencapai usia lima  tahun.  Andaikata
peristiwa  itu  terjadi  ketika ia berusia dua setengah tahun,
dan ketika itu Halimah dan  suaminya  mengembalikannya  kepada
ibunya,  tentulah terdapat kontradiksi dalam dua sumber cerita
itu yang tak dapat diterima. Oleh karena itu beberapa  penulis
berpendapat,  bahwa ia kembali dengan Halimah itu untuk ketiga
kalinya.

Dalam hal ini Sir William Muir tidak  mau  menyebutkan  cerita
tentang  dua  orang  berbaju putih itu, dan hanya menyebutkan,
bahwa kalau Halimah dan suaminya sudah menyadari adanya  suatu
gangguan  kepada  anak itu, maka mungkin saja itu adalah suatu
gangguan krisis urat-saraf, dan kalau  hal  itu  tidak  sampai
mengganggu  kesehatannya  ialah  karena  bentuk  tubuhnya yang
baik. Barangkali yang  lainpun  akan  berkata:  Baginya  tidak
diperlukan  lagi  akan  ada  yang  harus  membelah  perut atau
dadanya, sebab sejak dilahirkan Tuhan  sudah  mempersiapkannya
supaya  menjalankan  risalahNya. Dermenghem berpendapat, bahwa
cerita ini tidak mempunyai dasar kecuali dari  yang  diketahui
orang  dari  teks  ayat  yang  berbunyi:  "Bukankah sudah Kami
lapangkan dadamu? Dan sudah Kami lepaskan beban dari kau? Yang
telah memberati punggungmu?" (Qur'an 94: 1-3)

Apa  yang  telah  diisyaratkan  Qur'an  itu  adalah dalam arti
rohani semata, yang maksudnya ialah membersihkan  (menyucikan)
dan  mencuci  hati  yang akan menerima Risalah Kudus, kemudian
meneruskannya  seikhlas-ikhlasnya,  dengan  menanggung  segala
beban karena Risalah yang berat itu.

Dengan  demikian  apa  yang  diminta  oleh kaum Orientalis dan
pemikir-pemikir Muslim dalam hal ini ialah  bahwa  peri  hidup
Muhammad adalah sifatnya manusia semata-mata dan bersifat peri
kemanusiaan yang luhur. Dan untuk memperkuat  kenabiannya  itu
memang  tidak  perlu  ia harus bersandar kepada apa yang biasa
dilakukan oleh  mereka  yang  suka  kepada  yang  ajaib-ajaib.
Dengan  demikian  mereka  beralasan  sekali  menolak tanggapan
penulis-penulis Arab dan kaum Muslimin tentang peri hidup Nabi
yang  tidak  masuk akal itu. Mereka berpendapat bahwa apa yang
dikemukakan itu tidak sejalan dengan  apa  yang  diminta  oleh
Qur'an   supaya   merenungkan   ciptaan   Tuhan,   dan   bahwa
undang-undang Tuhan takkan ada yang berubah-ubah. Tidak sesuai
dengan  ekspresi  Qur'an  tentang  kaum Musyrik yang tidak mau
mendalami dan tidak mau mengerti juga.

Muhammad tinggal pada Keluarga Sa'd sampai mencapai usia  lima
tahun,  menghirup  jiwa  kebebasan dan kemerdekaan dalam udara
sahara  yang  lepas  itu.  Dari   kabilah   ini   ia   belajar
mempergunakan  bahasa  Arab  yang  murni,  sehingga  pernah ia
mengatakan kepada teman-temannya kemudian:  "Aku  yang  paling
fasih di antara kamu sekalian. Aku dari Quraisy tapi diasuh di
tengah-tengah Keluarga Sa'd bin Bakr."

Lima tahun masa yang ditempuhnya itu telah memberikan kenangan
yang  indah  sekali dan kekal dalam jiwanya. Demikian juga Ibu
Halimah dan keluarganya  tempat  dia  menumpahkan  rasa  kasih
sayang dan hormat selama hidupnya itu.

Penduduk  daerah  itu  pernah  mengalami  suatu  masa paceklik
sesudah perkawinan Muhammad dengan Khadijah. Bilamana  Halimah
kemudian  mengunjunginya, sepulangnya ia dibekali dengan harta
Khadijah berupa unta yang dimuati air  dan  empat  puluh  ekor
kambing. Dan setiap dia datang dibentangkannya pakaiannya yang
paling berharga untuk tempat duduk Ibu Halimah  sebagai  tanda
penghormatan. Ketika Syaima, puterinya berada di bawah tawanan
bersama-sama pihak Hawazin setelah  Ta'if  dikepung,  kemudian
dibawa  kepada  Muhammad,  ia segera mengenalnya. Ia dihormati
dan dikembalikan kepada keluarganya  sesuai  dengan  keinginan
wanita itu.

Sesudah  lima  tahun, kemudian Muhammad kembali kepada ibunya.
Dikatakan juga, bahwa Halimah pernah mencari tatkala ia sedang
membawanya    pulang    ketempat    keluarganya   tapi   tidak
menjumpainya. Ia mendatangi Abd'l-Muttalib dan  memberitahukan
bahwa  Muhammad  telah  sesat jalan ketika berada di hulu kota
Mekah. Lalu Abd'l-Muttalibpun menyuruh orang mencarinya,  yang
akhirnya   dikembalikan   oleh  Waraqa  bin  Naufal,  demikian
setengah orang berkata.

Kemudian Abd'l-Muttalib yang bertindak mengasuh  cucunya  itu.
Ia   memeliharanya   sungguh-sungguh  dan  mencurahkan  segala
kasih-sayangnya kepada cucu ini. Biasanya buat orang tua itu -
pemimpin  seluruh  Quraisy  dan pemimpin Mekah - diletakkannya
hamparan  tempat  dia  duduk  di  bawah  naungan  Ka'bah,  dan
anak-anaknya  lalu  duduk pula sekeliling hamparan itu sebagai
penghormatan kepada orang tua. Tetapi  apabila  Muhammad  yang
datang maka didudukkannya ia di sampingnya diatas hamparan itu
sambil ia mengelus-ngelus punggungnya. Melihat betapa besarnya
rasa cintanya itu paman-paman Muhammad tidak mau membiarkannya
di belakang dari tempat mereka duduk itu.

Lebih-lebih lagi kecintaan kakek  itu  kepada  cucunya  ketika
Aminah   kemudian   membawa   anaknya  itu  ke  Medinah  untuk
diperkenalkan  kepada  saudara-saudara  kakeknya  dari   pihak
Keluarga Najjar.

Dalam perjalanan itu dibawanya juga Umm Aiman, budak perempuan
yang ditinggalkan ayahnya dulu.  Sesampai  mereka  di  Medinah
kepada  anak  itu diperlihatkan rumah tempat ayahnya meninggal
dulu serta tempat ia dikuburkan. Itu adalah yang pertama  kali
ia  merasakan  sebagai  anak yatim. Dan barangkali juga ibunya
pernah menceritakan dengan panjang lebar tentang ayah tercinta
itu,   yang   setelah  beberapa  waktu  tinggal  bersama-sama,
kemudian meninggal dunia di tengah-tengah pamannya dari  pihak
ibu.  Sesudah  Hijrah  pernah  juga  Nabi  menceritakan kepada
sahabat-sahabatnya kisah perjalanannya yang pertama ke Medinah
dengan  ibunya itu. Kisah yang penuh cinta pada Medinah, kisah
yang penuh duka pada orang yang ditinggalkan keluarganya.

Sesudah cukup sebulan mereka tinggal di Medinah, Aminah  sudah
bersiap-siap  akan  pulang.  Ia  dan  rombongan kembali pulang
dengan dua ekor unta yang membawa mereka dari Mekah. Tetapi di
tengah  perjalanan,  ketika  mereka  sampai  di Abwa',2 ibunda
Aminah menderita sakit, yang kemudian meninggal dan dikuburkan
pula di tempat itu.

Anak  itu  oleh  Umm  Aiman  dibawa  pulang  ke  Mekah, pulang
menangis dengan hati yang pilu, sebatang kara. Ia makin merasa
kehilangan;  sudah  ditakdirkan  menjadi  anak  yatim.  Terasa
olehnya hidup yang makin sunyi,  makin  sedih.  Baru  beberapa
hari   yang   lalu  ia  mendengar  dari  Ibunda  keluhan  duka
kehilangan Ayahanda semasa ia masih dalam kandungan.  Kini  ia
melihat  sendiri  dihadapannya,  ibu pergi untuk tidak kembali
lagi, seperti ayah dulu.  Tubuh  yang  masih  kecil  itu  kini
dibiarkan memikul beban hidup yang berat, sebagai yatim-piatu.

Lebih-lebih  lagi  kecintaan  Abd'l-Muttalib kepadanya. Tetapi
sungguhpun begitu, kenangan sedih sebagai anak yatim-piatu itu
bekasnya masih mendalam sekali dalam jiwanya sehingga di dalam
Qur'anpun disebutkan,  ketika  Allah  mengingatkan  Nabi  akan
nikmat  yang  dianugerahkan  kepadanya  itu:  "Bukankah engkau
dalam keadaan yatim-piatu? Lalu diadakanNya  orang  yang  akan
melindungimu?  Dan  menemukan  kau  kehilangan  pedoman,  lalu
ditunjukkanNya jalan itu?" (Qur'an, 93: 6-7)

Kenangan yang memilukan hati ini barangkali akan  terasa  agak
meringankan juga sedikit, sekiranya Abd'l-Muttalib masih dapat
hidup lebih lama lagi. Tetapi orang tua  itu  juga  meninggal,
dalam  usia delapanpuluh tahun, sedang Muhammad waktu itu baru
berumur  delapan  tahun.  Sekali   lagi   Muhammad   dirundung
kesedihan  karena  kematian  kakeknya  itu, seperti yang sudah
dialaminya  ketika  ibunya  meninggal.  Begitu  sedihnya  dia,
sehingga   selalu  ia  menangis  sambil  mengantarkan  keranda
jenazah sampai ketempat peraduan terakhir.

Bahkan sesudah itupun ia masih tetap mengenangkannya sekalipun
sesudah  itu,  di  bawah asuhan Abu Talib pamannya ia mendapat
perhatian  dan  pemeliharaan  yang   baik   sekali,   mendapat
perlindungan  sampai  masa  kenabiannya,  yang  terus demikian
sampai pamannya itupun achirnya meninggal.

Sebenarnya kematian Abd'l-Muttalib ini merupakan pukulan berat
bagi Keluarga Hasyim semua. Di antara anak-anaknya itu tak ada
yang  seperti  dia:  mempunyai  keteguhan  hati,   kewibawaan,
pandangan  yang  tajam,  terhormat dan berpengaruh di kalangan
Arab semua. Dia menyediakan makanan dan  minuman  bagi  mereka
yang  datang  berziarah,  memberikan  bantuan  kepada penduduk
Mekah bila mereka mendapat bencana. Sekarang ternyata tak  ada
lagi  dari  anak-anaknya  itu yang akan dapat meneruskan. Yang
dalam keadaan miskin, tidak mampu melakukan itu,  sedang  yang
kaya  hidupnya  kikir  sekali.  Oleh  karena itu maka Keluarga
Umaya yang lalu tampil ke depan akan mengambil tampuk pimpinan
yang  memang  sejak  dulu  diinginkan  itu, tanpa menghiraukan
ancaman yang datang dari pihak Keluarga Hasyim.

Pengasuhan Muhammad di pegang oleh Abu  Talib,  sekalipun  dia
bukan yang tertua di antara saudara-saudaranya. Saudara tertua
adalah Harith, tapi dia tidak seberapa mampu. Sebaliknya Abbas
yang mampu, tapi dia kikir sekali dengan hartanya. Oleh karena
itu ia hanya memegang urusan siqaya (pengairan) tanpa mengurus
rifada  (makanan). Sekalipun dalam kemiskinannya itu, tapi Abu
Talib  mempunyai  perasaan  paling  halus  dan  terhormat   di
kalangan   Quraisy.   Dan   tidak   pula   mengherankan  kalau
Abd'l-Muttalib menyerahkan asuhan Muhammad kemudian kepada Abu
Talib.

Abu    Talib   mencintai   kemenakannya   itu   sama   seperti
Abd'l-Muttalib juga. Karena kecintaannya itu  ia  mendahulukan
kemenakan daripada anak-anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad
yang luhur, cerdas, suka berbakti dan baik hati,  itulah  yang
lebih  menarik hati pamannya. Pernah pada suatu ketika ia akan
pergi ke Syam membawa dagangan - ketika itu usia Muhammad baru
duabelas  tahun  -  mengingat sulitnya perjalanan menyeberangi
padang pasir, tak terpikirkan olehnya akan  membawa  Muhammad.
Akan  tetapi  Muhammad  yang  dengan  ikhlas  menyatakan  akan
menemani pamannya  itu,  itu  juga  yang  menghilangkan  sikap
ragu-ragu dalam hati Abu Talib.

Anak  itu  lalu  turut  serta  dalam rombongan kafilah, hingga
sampai di Bushra di  sebelah  selatan  Syam.  Dalam  buku-buku
riwayat  hidup  Muhammad  diceritakan,  bahwa dalam perjalanan
inilah ia bertemu dengan rahib Bahira,  dan  bahwa  rahib  itu
telah  melihat  tanda-tanda  kenabian  padanya  sesuai  dengan
petunjuk cerita-cerita Kristen. Sebagian sumber  menceritakan,
bahwa   rahib   itu  menasehatkan  keluarganya  supaya  jangan
terlampau  dalam  memasuki  daerah  Syam,  sebab   dikuatirkan
orang-orang   Yahudi  yang  mengetahui  tanda-tanda  itu  akan
berbuat jahat terhadap dia.

Dalam perjalanan itulah sepasang mata Muhammad yang indah  itu
melihat  luasnya  padang  pasir,  menatap bintang-bintang yang
berkilauan  di  langit  yang  jernih   cemerlang.   Dilaluinya
daerah-daerah    Madyan,    Wadit'l-Qura   serta   peninggalan
bangunan-bangunan Thamud. Didengarnya dengan  telinganya  yang
tajam  segala  cerita  orang-orang Arab dan penduduk pedalaman
tentang bangunan-bangunan itu, tentang sejarahnya masa lampau.
Dalam perjalanan ke daerah Syam ini ia berhenti di kebun-kebun
yang lebat dengan buab-buahan  yang  sudah  masak,  yang  akan
membuat  ia lupa akan kebun-kebun di Ta'if serta segala cerita
orang tentang itu. Taman-taman yang dilihatnya dibandingkannya
dengan  dataran pasir yang gersang dan gunung-gunung tandus di
sekeliling Mekah itu. Di Syam  ini  juga  Muhammad  mengetahui
berita-berita  tentang  Kerajaan  Rumawi dan agama Kristennya,
didengarnya berita tentang Kitab  Suci  mereka  serta  oposisi
Persia  dari  penyembah  api  terhadap mereka dan persiapannya
menghadapi perang dengan Persia.

Sekalipun  usianya  baru  dua  belas  tahun,  tapi  dia  sudah
mempunyai  persiapan  kebesaran jiwa, kecerdasan dan ketajaman
otak, sudah mempunyai tinjauan yang begitu dalam  dan  ingatan
yang  cukup  kuat  serta  segala  sifat-sifat semacam itu yang
diberikan alam kepadanya sebagai suatu persiapan akan menerima
risalah  (misi)  maha besar yang sedang menantinya. Ia melihat
ke sekeliling, dengan sikap menyelidiki,  meneliti.  Ia  tidak
puas terhadap segala yang didengar dan dilihatnya. Ia bertanya
kepada diri sendiri: Di manakah kebenaran dari semua itu?

Tampaknya  Abu  Talib  tidak   banyak   membawa   harta   dari
perjalanannya   itu.   Ia  tidak  lagi  mengadakan  perjalanan
demikian.  Malah  sudah  merasa  cukup   dengan   yang   sudah
diperolehnya  itu.  Ia  menetap di Mekah mengasuh anak-anaknya
yang  banyak  sekalipun  dengan  harta  yang  tidak  seberapa.
Muhammad  juga tinggal dengan pamannya, menerima apa yang ada.
Ia melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh mereka  yang
seusia  dia.  Bila tiba bulan-bulan suci, kadang ia tinggal di
Mekah  dengan  keluarga,  kadang  pergi  bersama   mereka   ke
pekan-pekan   yang   berdekatan   dengan  'Ukaz,  Majanna  dan
Dhu'l-Majaz,  mendengarkan  sajak-sajak  yang  dibawakan  oleh
penyair-penyair  Mudhahhabat  dan  Mu'allaqat.3 Pendengarannya
terpesona oleh sajak-sajak yang fasih  melukiskan  lagu  cinta
dan  puisi-puisi  kebanggaan,  melukiskan nenek moyang mereka,
peperangan  mereka,  kemurahan  hati  dan  jasa-jasa   mereka.
Didengarnya  ahli-ahli  pidato di antaranya orang-orang Yahudi
dan  Nasrani  yang  membenci  paganisma  Arab.  Mereka  bicara
tentang  Kitab-kitab  Suci  Isa  dan Musa, dan mengajak kepada
kebenaran  menurut  keyakinan  mereka.  Dinilainya  semua  itu
dengan  hati  nuraninya,  dilihatnya  ini  lebih baik daripada
paganisma yang telah  menghanyutkan  keluarganya  itu.  Tetapi
tidak sepenuhnya ia merasa lega.

Dengan  demikian sejak muda-belia takdir telah mengantarkannya
ke jurusan yang akan membawanya ke suatu saat bersejarah, saat
mula  pertama  datangnya wahyu, tatkala Tuhan memerintahkan ia
menyampaikan  risalahNya  itu.  Yakni  risalah  kebenaran  dan
petunjuk bagi seluruh umat manusia.

Kalau  Muhammad  sudah mengenal seluk-beluk jalan padang pasir
dengan pamannya  Abu  Talib,  sudah  mendengar  para  penyair,
ahli-ahli  pidato  membacakan  sajak-sajak  dan  pidato-pidato
dengan  keluarganya  dulu  di  pekan  sekitar   Mekah   selama
bulan-bulan  suci,  maka ia juga telah mengenal arti memanggul
senjata, ketika ia  mendampingi  paman-pamannya  dalam  Perang
Fijar.  Dan  Perang  Fijar  itulah  di  antaranya  yang  telah
menimbulkan  dan  ada  sangkut-pautnya  dengan  peperangan  di
kalangan  kabilah-kabilah Arab. Dinamakan al-fijar4 ini karena
ia terjadi dalam bulan-bulan suci, pada waktu  kabilah-kabilah
seharusnya   tidak   boleh   berperang.   Pada   waktu  itulah
pekan-pekan dagang diadakan di  'Ukaz,  yang  terletak  antara
Ta'if  dengan  Nakhla  dan  antara Majanna dengan Dhu'l-Majaz,
tidak jauh dari 'Arafat. Mereka di sana saling  tukar  menukar
perdagangan,  berlumba  dan  berdiskusi,  sesudah itu kemudian
berziarah ke tempat berhala-berhala mereka  di  Ka'bah.  Pekan
'Ukaz  adalah pekan yang paling terkenal di antara pekan-pekan
Arab  lainnya.  Di  tempat   itu   penyair-penyair   terkemuka
membacakan  sajak-sajaknya  yang  terbaik,  di tempat itu Quss
(bin Sa'ida) berpidato dan  di  tempat  itu  pula  orang-orang
Yahudi,  Nasrani dan penyembah-penyembah berhala masing-masing
mengemukakan pandangan dengan bebas,  sebab  bulan  itu  bulan
suci.

Akan  tetapi  Barradz  bin Qais dari kabilah Kinana tidak lagi
menghormati  bulan  suci  itu  dengan   mengambil   kesempatan
membunuh  'Urwa  ar-Rahhal  bin  'Utba  dari  kabilah Hawazin.
Kejadian  ini  disebabkan  oleh  karena  Nu'man  bin'l-Mundhir
setiap  tahun  mengirimkan  sebuah  kafilah dari Hira ke 'Ukaz
membawa muskus,  dan  sebagai  gantinya  akan  kembali  dengan
membawa  kulit  hewan, tali, kain tenun sulam Yaman. Tiba-tiba
Barradz tampil  sendiri  dan  membawa  kafilah  itu  ke  bawah
pengawasan  kabilah  Kinana.  Demikian  juga 'Urwa lalu tampil
pula sendiri dengan melintasi jalan Najd menuju Hijaz.

Adapun pilihan  Nu'man  terhadap  'Urwa  (Hawazin)  ini  telah
menimbulkan   kejengkelan   Barradz  (Kinana),  yang  kemudian
mengikutinya dari belakang,  lalu  membunuhnya  dan  mengambil
kabilah  itu.  Sesudah  itu  kemudian  Barradz  memberitahukan
kepada Basyar bin Abi Hazim, bahwa pihak Hawazin akan menuntut
balas  kepada  Quraisy.  Fihak Hawazin segera menyusul Quraisy
sebelum masuknya bulan suci.  Maka  terjadilah  perang  antara
mereka itu. Pihak Quraisy mundur dan menggabungkan diri dengan
pihak yang menang di Mekah. Pihak Hawazin  memberi  peringatan
bahwa tahun depan perang akan diadakan di 'Ukaz.

Perang  demikian  ini  berlangsung  antara  kedua  belah pihak
selama empat tahun terus-menerus  dan  berakhir  dengan  suatu
perdamaian   model  pedalaman,  yaitu  yang  menderita  korban
manusia lebih  kecil  harus  membayar  ganti  sebanyak  jumlah
kelebihan  korban  itu kepada pihak lain. Maka dengan demikian
Quraisy telah  membayar  kompensasi  sebanyak  duapuluh  orang
Hawazin.  Nama  Barradz  ini  kemudian menjadi peribahasa yang
menggambarkan kemalangan. Sejarah tidak  memberikan  kepastian
mengenai  umur  Muhammad  pada waktu Perang Fijar itu terjadi.
Ada yang mengatakan umurnya limabelas  tahun,  ada  juga  yang
mengatakan  duapuluh tahun. Mungkin sebab perbedaan ini karena
perang tersebut berlangsung selama  empat  tahun.  Pada  tahun
permulaan   ia   berumur   limabelas   tahun  dan  pada  tahun
berakhirnya perang itu ia sudah memasuki umur duapuluh tahun.

Juga orang berselisih pendapat mengenai  tugas  yang  dipegang
Muhammad  dalam  perang  itu.  Ada  yang  mengatakan  tugasnya
mengumpulkan anak-anak panah yang datang  dari  pihak  Hawazin
lalu di berikan kepada paman-pamannya untuk dibalikkan kembali
kepada pihak lawan. Yang  lain  lagi  berpendapat,  bahwa  dia
sendiri yang ikut melemparkan panah. Tetapi, selama peperangan
tersebut telah berlangsung sampai empat tahun, maka  kebenaran
kedua  pendapat  itu dapat saja diterima. Mungkin pada mulanya
ia  mengumpulkan  anak-anak  panah  itu  untuk  pamannya   dan
kemudian  dia  sendiripun  ikut  melemparkan.  Beberapa  tahun
sesudah  kenabiannya  Rasulullah  menyebutkan  tentang  Perang
Fijar  itu  dengan  berkata:  "Aku mengikutinya bersama dengan
paman-pamanku, juga ikut melemparkan panah dalam  perang  itu;
sebab aku tidak suka kalau tidak juga aku ikut melaksanakan."

Sesudah  Perang  Fijar  Quraisy  merasakan sekali bencana yang
menimpa mereka dan menimpa Mekah seluruhnya,  yang  disebabkan
oleh perpecahan, sesudah Hasyim dan 'Abd'l-Muttalib wafat, dan
masing-masing pihak berkeras mau  jadi  yang  berkuasa.  Kalau
tadinya orang-orang Arab itu menjauhi, sekarang mereka berebut
mau berkuasa. Atas anjuran Zubair bin 'Abd'l-Muttalib di rumah
Abdullah  bin  Jud'an  diadakan  pertemuan  dengan  mengadakan
jamuan makan, dihadiri oleh  keluarga-keluarga  Hasyim,  Zuhra
dan  Taym.  Mereka  sepakat  dan berjanji atas nama Tuhan Maha
Pembalas, bahwa Tuhan akan  berada  di  pihak  yang  teraniaya
sampai  orang itu tertolong. Muhammad menghadiri pertemuan itu
yang oleh mereka disebut Hilf'l-Fudzul.  Ia  mengatakan,  "Aku
tidak  suka  mengganti fakta yang kuhadiri di rumah Ibn Jud'an
itu dengan jenis unta yang baik.  Kalau  sekarang  aku  diajak
pasti kukabulkan."

Seperti   kita  lihat,  Perang  Fijar  itu  berlangsung  hanya
beberapa hari saja tiap tahun.  Sedang  selebihnya  masyarakat
Arab  kembali  ke  pekerjaannya  masing-masing. Pahit-getirnya
peperangan  yang  tergores  dalam  hati  mereka   tidak   akan
menghalangi  mereka  dari  kegiatan  perdagangan,  menjalankan
riba, minum minuman keras serta pelbagai macam kesenangan  dan
hiburan sepuas-puasnya

Adakah  juga  Muhammad ikut serta dengan mereka dalam hal ini?
Ataukah sebaliknya perasaannya yang halus,  kemampuannya  yang
terbatas  serta asuhan pamannya membuatnya jadi menjauhi semua
itu, dan melihat segala kemewahan dengan  mata  bernafsu  tapi
tidak  mampu? Bahwasanya dia telah menjauhi semua itu, sejarah
cukup menjadi saksi. Yang terang ia menjauhi itu bukan  karena
tidak  mampu  mencapainya.  Mereka  yang  tinggal di pinggiran
Mekah,  yang  tidak  mempunyai  mata  pencarian,  hidup  dalam
kemiskinan dan kekurangan, ikut hanyut juga dalam hiburan itu.
Bahkan di antaranya lebih gila lagi dari  pemuka-pemuka  Mekah
dan  bangsawan-bangsawan  Quraisy  dalam menghanyutkan diri ke
dalam kesenangan demikian itu.

Akan tetapi jiwa Muhammad  adalah  jiwa  yang  ingin  melihat,
ingin  mendengar,  ingin  mengetahui.  Dan  seolah  tidak ikut
sertanya ia belajar seperti yang dilakukan teman-temannya dari
anak-anak  bangsawan  menyebabkan  ia  lebih  keras lagi ingin
memiliki pengetahuan. Karena jiwanya yang besar, yang kemudian
pengaruhnya tampak berkilauan menerangi dunia, jiwa besar yang
selalu mendambakan kesempurnaan, itu jugalah yang  menyebabkan
dia  menjauhi  foya-foya,  yang  biasa  menjadi  sasaran utama
pemduduk Mekah. Ia mendambakan cahaya hidup  yang  akan  lahir
dalam  segala  manifestasi kehidupan, dan yang akan dicapainya
hanya dengan dasar kebenaran. Kenyataan  ini  dibuktikan  oleh
julukan  yang  diberikan  orang  kepadanya dan bawaan yang ada
dalam dirinya. Itu sebabnya, sejak masa ia kanak-kanak  gejala
kesempurnaan,  kedewasaan  dan  kejujuran  hati  sudah tampak,
sehingga penduduk Mekah semua  memanggilnya  Al-Amin  (artinya
'yang dapat dipercaya').

Yang menyebabkan dia lebih banyak merenung dan berpikir, ialah
pekerjaannya menggembalakan kambing sejak dalam  masa  mudanya
itu.   Dia  menggembalakan  kambing  keluarganya  dan  kambing
penduduk Mekah. Dengan rasa gembira ia  menyebutkan  saat-saat
yang  dialaminya  pada  waktu menggembala itu. Di antaranya ia
berkata: "Nabi-nabi yang diutus Allah  itu  gembala  kambing."
Dan  katanya  lagi:  "Musa  diutus,  dia gembala kambing, Daud
diutus, dia gembala kambing, aku diutus, juga gembala  kambing
keluargaku di Ajyad."

Gembala  kambing  yang  berhati  terang  itu, dalam udara yang
bebas lepas di siang hari, dalam kemilau  bintang  bila  malam
sudah  bertahta,  menemukan  suatu  tempat  yang  serasi untuk
pemikiran dan permenungannya. Ia menerawang dalam suasana alam
demikian  itu,  karena ia ingin melihat sesuatu di balik semua
itu.  Dalam  pelbagai  manifestasi  alam  ia   mencari   suatu
penafsiran  tentang penciptaan semesta ini. Ia melihat dirinya
sendiri. Karena hatinya yang terang, jantungnya yang hidup, ia
melihat dirinya tidak terpisah dari alam semesta itu. Bukankah
juga ia menghirup udaranya, dan kalau tidak  demikian  berarti
kematian?   Bukankah   ia   dihidupkan  oleh  sinar  matahari,
bermandikan cahaya bulan dan kehadirannya  berhubungan  dengan
bintang-bintang  dan  dengan seluruh alam? Bintang-bintang dan
semesta alam yang tampak membentang di  depannya,  berhubungan
satu  dengan  yang  lain  dalam susunan yang sudah ditentukan,
matahari tiada seharusnya dapat mengejar bulan atau malam akan
mendahului  siang.  Apabila kelompok kambing yang ada di depan
Muhammad itu  memintakan  kesadaran  dan  perhatiannya  supaya
jangan  ada  serigala  yang  akan  menerkam  domba itu, jangan
sampai - selama tugasnya di pedalaman itu  -  ada  domba  yang
sesat, maka kesadaran dan kekuatan apakah yang menjaga susunan
alam yang begitu kuat ini?

Pemikiran dan permenungan demikian membuat ia jauh dari segala
pemikiran  nafsu  manusia duniawi. Ia berada lebih tinggi dari
itu sehingga adanya hidup palsu yang sia-sia akan tampak jelas
di   hadapannya.   Oleh   karena   itu,  dalam  perbuatan  dan
tingkah-lakunya Muhammad terhindar dari segala  penodaan  nama
yang sudah diberikan kepadanya oleh penduduk Mekah, dan memang
begitu adanya: Al-Amin.

Semua  ini  dibuktikan  oleh  keterangan  yang  diceritakannya
kemudian,  bahwa  ketika  itu  ia  sedang  menggembala kambing
dengan seorang kawannya.  Pada  suatu  hari  hatinya  berkata,
bahwa  ia  ingin  bermain-main seperti pemuda-pemuda lain. Hal
ini dikatakannya kepada kawannya pada suatu  senja,  bahwa  ia
ingin  turun  ke  Mekah,  bermain-main  seperti para pemuda di
gelap  malam,  dan  dimintanya  kawannya  menjagakan   kambing
ternaknya itu. Tetapi sesampainya di ujung Mekah, perhatiannya
tertarik pada suatu pesta perkawinan dan dia hadir  di  tempat
itu.  Tetapi  tiba-tiba  ia  tertidur.  Pada  malam berikutnya
datang lagi ia ke Mekah, dengan maksud  yang  sama.  Terdengar
olehnya  irama  musik yang indah, seolah turun dari langit. Ia
duduk mendengarkan. Lalu tertidur lagi sampai pagi.

Jadi apakah gerangan pengaruh segala daya  penarik  Mekah  itu
terhadap  kalbu  dan  jiwa  yang begitu padat oleh pikiran dan
renungan? Gerangan apa pula artinya segala daya  penarik  yang
kita  gambarkan itu yang juga tidak disenangi oleh mereka yang
martabatnya jauh di bawah Muhammad?

Karena itu ia terhindar dari cacat. Yang sangat  terasa  benar
nikmatnya,  ialah  bila  ia sedang berpikir atau merenung. Dan
kehidupan  berpikir  dan  merenung  serta  kesenangan  bekerja
sekadarnya seperti menggembalakan kambing, bukanlah suatu cara
hidup yang  membawa  kekayaan  berlimpah-limpah  baginya.  Dan
memang  tidak  pernah  Muhammad  mempedulikan  hal  itu. Dalam
hidupnya  ia  memang  menjauhkan  diri  dari  segala  pengaruh
materi.  Apa  gunanya  ia  mcngejar  itu padahal sudah menjadi
bawaannya ia tidak pernah tertarik? Yang  diperlukannya  dalam
hidup ini asal dia masih dapat menyambung hidupnya.

Bukankah  dia juga yang pernahh berkata: "Kami adalah golongan
yang hanya makan bila merasa lapar, dan bila sudah makan tidak
sampai  kenyang?"  Bukankah  dia juga yang sudah dikenal orang
hidup  dalam  kekurangan  selalu  dan   minta   supaya   orang
bergembira  menghadapi  penderitaan hidup? Cara orang mengejar
harta dengan  serakah  hendak  memenuhi  hawa  nafsunya,  sama
sekali   tidak   pernah   dikenal  Muhammad  selama  hidupnya.
Kenikmatan jiwa yang  paling  besar,  ialah  merasakan  adanya
keindahan  alam  ini  dan mengajak orang merenungkannya. Suatu
kenikmatan besar,  yang  hanya  sedikit  saja  dikenal  orang.
Kenikmatan  yang  dirasakan Muhammad sejak masa pertumbuhannya
yang mula-mula  yang  telah  diperlihatkan  dunia  sejak  masa
mudanya  adalah kenangan yang selalu hidup dalam jiwanya, yang
mengajak orang  hidup  tidak  hanya  mementingkan  dunia.  Ini
dimulai   sejak   kematian   ayahnya  ketika  ia  masih  dalam
kandungan,  kemudian  kematian   ibunya,   kemudian   kematian
kakeknya.  Kenikmatan  demikian  ini  tidak  memerlukan  harta
kekayaan yang besar, tetapi  memerlukan  suatu  kekayaan  jiwa
yang  kuat.  sehingga  orang  dapat  mengetahui:  bagaimana ia
memelihara diri dan menyesuaikannya dengan kehidupan batin.

Andaikata pada waktu itu Muhammad dibiarkan saja begitu, tentu
takkan tertarik ia kepada harta. Dengan keadaannya itu ia akan
tetap bahagia, seperti halnya dengan gembala-gembala  pemikir,
yang  telah  menggabungkan alam ke dalam diri mereka dan telah
pula mereka berada dalam pelukan kalbu alam.

Akan tetapi Abu Talib pamannya - seperti sudah  kita  sebutkan
tadi  -hidup  miskin dan banyak anak. Dari kemenakannya itu ia
mengharapkan akan dapat memberikan tambahan rejeki  yang  akan
diperoleh   dari   pemilik-pemilik   kambing  yang  kambingnya
digembalakan. Suatu waktu ia mendengar berita, bahwa  Khadijah
bint  Khuwailid mengupah orang-orang Quraisy untuk menjalankan
perdagangannya. Khadijah adalah seorang wanita  pedagang  yang
kaya  dan  dihormati, mengupah orang yang akan memperdagangkan
hartanya itu. Berasal dari Keluarga (Banu) Asad, ia  bertambah
kaya  setelah  dua  kali  ia  kawin  dengan  keluarga Makhzum,
sehingga dia menjadi seorang penduduk Mekah yang  terkaya.  Ia
menjalankan  dagangannya  itu dengan bantuan ayahnya Khuwailid
dan beberapa orang  kepercayaannya.  Beberapa  pemuka  Quraisy
pernah  melamarnya,  tetapi  ditolaknya.  Ia  yakin mereka itu
melamar hanya karena  memandang  hartanya.  Sungguhpun  begitu
usahanya itu terus dikembangkan.

Tatkala Abu Talib mengetahui, bahwa Khadijah sedang menyiapkan
perdagangan yang  akan  dibawa  dengan  kafilah  ke  Syam,  ia
memanggil   kemenakannya  -  yang  ketika  itu  sudah  berumur
duapuluh lima tahun.

"Anakku," kata Abu Talib, "aku bukan orang  berpunya.  Keadaan
makin   menekan  kita  juga.  Aku  mendengar,  bahwa  Khadijah
mengupah orang dengan dua  ekor  anak  unta.  Tapi  aku  tidak
setuju  kalau  akan  mendapat upah semacam itu juga. Setujukah
kau kalau hal ini kubicarakan dengan dia?"

"Terserah paman," jawab Muhammad.

Abu Talibpun pergi mengunjungi Khadijah:

"Khadijah, setujukah kau mengupah Muhammad?" tanya Abu  Talib.
"Aku mendengar engkau mengupah orang dengan dua ekor anak unta
Tapi buat Muhammad aku tidak setuju kurang dari empat ekor."

"Kalau  permintaanmu  itu  buat  orang  yang  jauh  dan  tidak
kusukai,  akan  kukabulkan,  apalagi buat orang yang dekat dan
kusukai." Demikian jawab Khadijah.

Kembalilah sang paman kepada kemenakannya dengan  menceritakan
peristiwa  itu.  "Ini  adalah  rejeki  yang  dilimpahkan Tuhan
kepadamu," katanya.

Setelah mendapat nasehat paman-pamannya Muhammad pergi  dengan
Maisara,  budak  Khadijah. Dengan mengambil jalan padang pasir
kafilah  itupun  berangkat   menuju   Syam,   dengan   melalui
Wadi'l-Qura,  Madyan  dan Diar Thamud serta daerah-daerah yang
dulu pernah dilalui Muhammad dengan pamannya Abu Talib tatkala
umurnya baru duabelas tahun.

Perjalanan  sekali  ini telah menghidupkan kembali kenangannya
tentag perjalanan yang pertama dulu itu. Hal ini menambah  dia
lebih  banyak  bermenung, lebih banyak berpikir tentang segala
yang pernah dilihat, yang pernah didengar sebelumnya:  tentang
peribadatan   dan  kepercayaan-kepercayaan  di  Syam  atau  di
pasar-pasar sekeliling Mekah.

Setelah sampai di Bushra ia bertemu dengan agama Nasrani Syam.
Ia  bicara  dengan  rahib-rahib dan pendeta-pendeta agama itu,
dan seorang rahib Nestoria juga mengajaknya bicara. Barangkali
dia  atau  rahib-rahib  lain  pernah  juga  mengajak Muhammad
berdebat  tentang  agama  Isa,  agama  yang  waktu  itu  sudah
berpecah-belah  menjadi  beberapa  golongan  dan sekta-sekta -
seperti sudah kita uraikan di atas.

Dengan kejujuran  dan  kemampuannya  ternyata  Muhammad  mampu
benar  memperdagangkan  barang-barang  Khadijah,  dengan  cara
perdagangan yang  lebih  banyak  menguntungkan  daripada  yang
dilakukan orang lain sebelumnya. Demikian juga dengan karakter
yang  manis  dan  perasaannya  yang  luhur  ia  dapat  menarik
kecintaan  dan  penghormatan  Maisara  kepadanya. Setelah tiba
waktunya mereka akan kembali,  mereka  membeli  segala  barang
dagangan dari Syam yang kira-kira akan disukai oleh Khadijah.

Dalam    perjalanan    kembali    kafilah   itu   singgah   di
Marr'-z-Zahran.  Ketika  itu   Maisara   berkata:   "Muhammad,
cepat-cepatlah    kau    menemui    Khadijah   dan   ceritakan
pengalamanmu. Dia akan mengerti hal itu."

Muhammad berangkat dan tengah  hari  sudah  sampai  di  Mekah.
Ketika   itu  Khadijah  sedang  berada  di  ruang  atas.  Bila
dilihatnya Muhammad di atas unta dan  sudah  memasuki  halaman
rumahnya.  ia  turun  dan  menyambutnya.  Didengarnya Muhammad
bercerita   dengan   bahasa   yang   begitu   fasih    tentang
perjalanannya  serta  laba  yang  diperolehnya,  demikian juga
mengenai barang-barang Syam yang dibawanya.  Khadijah  gembira
dan  tertarik  sekali  mendengarkan.  Sesudah  itu  Maisarapun
datang pula yang lalu bercerita juga tentang Muhammad,  betapa
halusnya  wataknya,  betapa tingginya budi-pekertinya. Hal ini
menambah  pengetahuan   Khadijah   di   samping   yang   sudah
diketahuinya sebagai pemuda Mekah yang besar jasanya.

Dalam  waktu  singkat  saja  kegembiraan  Khadijah  ini  telah
berubah menjadi rasa cinta, sehingga dia - yang sudah  berusia
empatpuluh  tahun,  dan yang sebelum itu telah menolak lamaran
pemuka-pemuka dan pembesar-pembesar Quraisy  -  tertarik  juga
hatinya  mengawini  pemuda  ini, yang tutur kata dan pandangan
matanya telah menembusi kalbunya. Pernah ia  membicarakan  hal
itu  kepada  saudaranya  yang  perempuan - kata sebuah sumber,
atau dengan sahabatnya, Nufaisa  bint  Mun-ya  -  kata  sumber
lain. Nufaisa pergi menjajagi Muhammad seraya berkata: "Kenapa
kau tidak mau kawin?"

"Aku tidak punya apa-apa sebagai persiapan perkawinan,"  jawab
Muhammad.

"Kalau itu disediakan dan yang melamarmu itu cantik, berharta,
terhormat dan memenuhi syarat, tidakkah akan kauterima?"

"Siapa itu?"

Nufaisa menjawab hanya dengan sepatah kata: "Khadijah."

"Dengan cara bagaimana?" tanya Muhammad. Sebenarnya ia sendiri
berkenan  kepada  Khadijah  sekalipun hati kecilnya belum lagi
memikirkan soal perkawinan, mengingat Khadijah  sudah  menolak
permintaan hartawan-hartawan dan bangsawan-bangsawan Quraisy.

Setelah  atas pertanyaan itu Nufaisa mengatakan: "Serahkan hal
itu kepadaku," maka iapun menyatakan persetujuannya. Tak  lama
kemudian Khadijah menentukan waktunya yang kelak akan dihadiri
oleh paman-paman Muhammad supaya dapat bertemu dengan keluarga
Khadijah guna menentukan hari perkawinan.

Kemudian perkawinan itu berlangsung dengan diwakili oleh paman
Khadijah,  Umar  bin  Asad,  sebab  Khuwailid  ayahnya   sudah
meninggal  sebelum  Perang  Fijar.  Hal  ini dengan sendirinya
telah membantah apa yang biasa dikatakan,  bahwa  ayahnya  ada
tapi  tidak menyetujui perkawinan itu dan bahwa Khadijah telah
memberikan minuman keras sehingga ia mabuk dan  dengan  begitu
perkawinannya dengan Muhammad kemudian dilangsungkan.

Di  sinilah dimulainya lembaran baru dalam kehidupan Muhammad.
Dimulainya kehidupan itu sebagai  suami-isteri  dan  ibu-bapa,
suami-isten  yang  harmonis  dan sedap dari kedua belah pihak,
dan sebagai ibu-bapa yang telah merasakan pedihnya  kehilangan
anak sebagaimana pernah dialami Muhammad yang telah kehilangan
ibu-bapa semasa ia masih kecil.

Catatan kaki:

 1 Muhammad atau Mahmud artinya yang terpuji (A).

 2 Abwa' ialah sebuah desa antara Medinah dengan Juhfa,
   jaraknya 23 mil (37 km) dari Medinah.

 3 Al-Mu'allaqat nama yang diberikan kepada tujuh buah kumpulan
   puisi Arab pra Islam yang dianggap terbaik, oleh tujuh
   penyair: Imr'l-Qais, Tarafa, Zuhair, Labid, 'Antara, 'Amr ibn
   Kulthum dan Harith ibn Hilizza. Mu'allaqat berarti 'yang
   digantungkan' yakni sajak-sajak yang ditulis dengan tinta emas
   (almudhahhab) di atas kain lina (A).

 4 Pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku (A).

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980

Seri PUSTAKA ISLAM No.1

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s