ARAB PRA-ISLAM

Standar

Sumber peradaban pertama – Agama Yahudi dan Kristen
– Sekta-sekta Kristen dan Pertentangannya – Majusi
Persia di jazirah Arab – Jalan-jalan kafilah – Yaman
dan peradabannya – Sebabnya Jazirah bertahan pada
paganisma.

PENYELIDIKAN mengenai sejarah peradaban manusia dan dari  mana
pula  asal-usulnya,  sebenarnya  masih  ada hubungannya dengan
zaman kita sekarang  ini.  Penyelidikan  demikian  sudah  lama
menetapkan,  bahwa  sumber peradaban itu sejak lebih dari enam
ribu  tahun  yang  lalu  adalah  Mesir.  Zaman   sebelum   itu
dimasukkan orang kedalam kategori pra-sejarah. Oleh karena itu
sukar sekali akan sampai kepada suatu  penemuan  yang  ilmiah.
Sarjana-sarjana   ahli   purbakala   (arkelogi)  kini  kembali
mengadakan penggalian-penggalian  di  Irak  dan  Suria  dengan
maksud  mempelajari  soal-soal  peradaban  Asiria  dan Funisia
serta  menentukan  zaman  permulaan   daripada   kedua   macam
peradaban  itu:  adakah  ia  mendahului  peradaban  Mesir masa
Firaun dan sekaligus mempengaruhinya, ataukah ia menyusul masa
itu dan terpengaruh karenanya?

Apapun  juga  yang  telah  diperoleh  sarjana-sarjana arkelogi
dalam bidang  sejarah  itu,  samasekali  tidak  akan  mengubah
sesuatu  dari kenyataan yang sebenarnya, yang dalam penggalian
benda-benda kuno Tiongkok dan Timur Jauh belum  memperlihatkan
hasil  yang  berlawanan.  Kenyataan  ini  ialah  bahwa  sumber
peradaban pertama – baik di Mesir, Funisia atau Asiria  –  ada
hubungannya  dengan  Laut Tengah; dan bahwa Mesir adalah pusat
yang paling menonjol membawa peradaban pertama itu  ke  Yunani
atau  Rumawi,  dan  bahwa peradaban dunia sekarang, masa hidup
kita  sekarang  ini,  masih  erat  sekali  hubungannya  dengan
peradaban pertama itu.

Apa   yang   pernah   diperlihatkan   oleh  Timur  Jauh  dalam
penyelidikam tentang sejarah peradaban, tidak  pernah  memberi
pengaruh  yang jelas terhadap pengembangan peradaban-peradaban
Fira’un, Asiria atau Yunani, juga tidak pernah mengubah tujuan
dan  perkembangan  peradaban-peradaban  tersebut. Hal ini baru
terjadi sesudah  ada  akulturasi  dan  saling-hubungan  dengan
peradaban      Islam.     Di     sinilah     proses     saling
pengaruh-mempengaruhi itu terjadi, proses asimilasi yang sudah
sedemikian  rupa, sehingga pengaruhnya terdapat pada peradaban
dunia yang menjadi pegangan umat manusia dewasa ini.

Peradaban-peradaban itu sudah begitu berkembang  dan  tersebar
ke  pantai-pantai Laut Tengah atau di sekitarnya, di Mesir, di
Asiria dan Yunani sejak ribuan tahun yang  lalu,  yang  sampai
saat  ini  perkembangannya  tetap dikagumi dunia: perkembangan
dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam bidang  pertanian,
perdagangan,  peperangan  dan  dalam  segala  bidang  kegiatan
manusia.   Tetapi,   semua   peradaban   itu,    sumber    dan
pertumbuhannya,  selalu berasal dari agama. Memang benar bahwa
sumber itu  berbeda-beda  antara  kepercayaan  trinitas  Mesir
Purba  yang  tergambar  dalam  Osiris,  Isis  dan  Horus, yang
memperlihatkan  kesatuan  dan  penjelmaan  hidup  kembali   di
negerinya serta hubungan kekalnya hidup dari bapa kepada anak,
dan  antara  paganisma  Yunani  dalam  melukiskan   kebenaran,
kebaikan   dan   keindahan  yang  bersumber  dan  tumbuh  dari
gejala-gejala alam berdasarkan pancaindera;  demikian  sesudah
itu   timbul   perbedaan-perbedaan  yang  dengan  penggambaran
semacam  itu  dalam  pelbagai  zaman  kemunduran   itu   telah
mengantarkannya ke dalam kehidupan duniawi. Akan tetapi sumber
semua peradaban itu tetap membentuk perjalanan sejarah  dunia,
yang  begitu  kuat  pengaruhnya sampai saat kita sekarang ini,
sekalipun peradaban demikian hendak  mencoba  melepaskan  diri
dan  melawan  sumbernya sendiri itu dari zaman ke zaman. Siapa
tahu, hal yang serupa kelak akan hidup kembali.

Dalam   lingkungan   masyarakat   ini,    yang    menyandarkan
peradabannya  sejak  ribuan  tahun  kepada sumber agama, dalam
lingkungan  itulah  dilahirkan   para   rasul   yang   membawa
agama-agama   yang  kita  kenal  sampai  saat  ini.  Di  Mesir
dilahirkan Musa, dan dalam pangkuan Firaun ia  dibesarkan  dan
diasuh,  dan  di  tangan  para pendeta dan pemuka-pemuka agama
kerajaan itu ia mengetahui keesaan Tuhan  dan  rahasia-rahasia
alam.

Setelah  datang ijin Tuhan kepadanya supaya ia membimbing umat
di tengah-tengah Firaun yang berkata kepada rakyatnya: “Akulah
tuhanmu yang tertinggi” iapun berhadapan dengan Firaun sendiri
dan tukang-tukang  sihirnya,  sehingga  akhirnya  terpaksa  ia
bersama-sama orang-orang Israil yang lain pindah ke Palestina.
Dan di Palestina ini pula dilahirkan Isa, Ruh dan Firman Allah
yang  ditiupkan  ke  dalam  diri Mariam. Setelah Tuhan menarik
kembali Isa putera Mariam, murid-muridnya kemudian menyebarkan
agama   Nasrani   yang   dianjurkan   Isa   itu.   Mereka  dan
pengikut-pengikut     mereka     mengalami      bermacam-macam
penganiayaan. Kemudian setelah dengan kehendak Tuhan agama ini
tersebar,  datanglah  Maharaja  Rumawi  yang  menguasai  dunia
ketika  itu,  membawa  panji  agama  Nasrani. Seluruh Kerajaan
Rumawi kini telah menganut agama Isa. Tersebarlah agama ini di
Mesir,  di  Syam (Suria-Libanon dan Palestina) dan Yunani, dan
dari Mesir menyebar  pula  ke  Ethiopia.  Sesudah  itu  selama
beberapa  abad  kekuasaan  agama  ini semakin kuat juga. Semua
yang berada di bawah panji  Kerajaan  Rumawi  dan  yang  ingin
mengadakan persahabatan dan hubungan baik dengan Kerajaan ini,
berada di bawah panji agama Masehi itu.

Berhadapan dengan agama Masehi yang tersebar  di  bawah  panji
dan pengaruh Rumawi itu berdiri pula kekuasaan agama Majusi di
Persia yang mendapat dukungan  moril  di  Timur  Jauh  dan  di
India.   Selama  beberapa  abad  itu  Asiria  dan  Mesir  yang
membentang  sepanjang  Funisia,  telah  merintangi  terjadinya
suatu  pertarungan  langsung  antara kepercayaan dan peradaban
Barat dengan Timur. Tetapi dengan masuknya Mesir  dan  Funisia
ke  dalam lingkungan Masehi telah pula menghilangkan rintangan
itu. Paham Masehi di Barat dan Majusi di Timur sekarang  sudah
berhadap-hadapan  muka.  Selama  beberapa abad berturut-turut,
baik Barat maupun Timur, dengan  hendak  menghormati  agamanya
masing-masing, yang sedianya berhadapan dengan rintangan alam,
kini telah berhadapan dengan  rintangan  moril,  masing-masing
merasa  perlu  dengan  sekuat  tenaga  berusaha mempertahankan
kepercayaannya, dan satu sama lain tidak  saling  mempengaruhi
kepercayaan  atau  peradabannya,  sekalipun  peperangan antara
mereka itu berlangsung terus-menerus sampai sekian lama.

Akan tetapi, sekalipun Persia telah dapat  mengalahkan  Rumawi
dan  dapat  menguasai  Syam dan Mesir dan sudah sampai pula di
ambang pintu Bizantium,  namun  tak  terpikir  oleh  raja-raja
Persia  akan menyebarkan agama Majusi atau menggantikan tempat
agama Nasrani. Bahkan pihak yang  kini  berkuasa  itu  malahan
menghormati  kepercayaan  orang  yang dikuasainya. Rumah-rumah
ibadat mereka yang sudah hancur  akibat  perang  dibantu  pula
membangun  kembali  dan  dibiarkan  mereka  bebas  menjalankan
upacara-upacara  keagamaannya.  Satu-satunya  yang   diperbuat
pihak  Persia dalam hal ini hanyalah mengambil Salib Besar dan
dibawanya ke negerinya. Bilamana kelak kemenangan itu berganti
berada  di  pihak  Rumawi Salib itupun diambilnya kembali dari
tangan Persia. Dengan demikian peperangan rohani di Barat  itu
tetap  di  Barat  dan di Timur tetap di Timur. Dengan demikian
rintangan moril tadi sama pula dengan rintangan alam dan kedua
kekuatan itu dari segi rohani tidak saling berbenturan.

Keadaan serupa itu berlangsung terus sampai abad keenam. Dalam
pada itu pertentangan antara  Rumawi  dengan  Bizantium  makin
meruncing.  Pihak  Rumawi,  yang  benderanya berkibar di benua
Eropa sampai ke Gaul  dan  Kelt  di  Inggris  selama  beberapa
generasi dan selama zaman Julius Caesar yang dibanggakan dunia
dan tetap dibanggakan, kemegahannya itu berangsur-angsur telah
mulai  surut, sampai akhirnya Bizantium memisahkan diri dengan
kekuasaan sendiri pula, sebagai ahliwaris Kerajaan Rumawi yang
menguasai  dunia  itu. Puncak keruntuhan Kerajaan Rumawi ialah
tatkala pasukan Vandal yang buas itu  datang  menyerbunya  dan
mengambil  kekuasaan  pemerintahan di tangannya. Peristiwa ini
telah menimbulkan bekas yang  dalam  pada  agama  Masehi  yang
tumbuh  dalam  pangkuan  Kerajaan  Rumawi.  Mereka  yang sudah
beriman kepada Isa itu telah mengalami pengorbanan-pengorbanan
besar, berada dalam ketakutan di bawah kekuasaan Vandal itu.

Mazhab-mazhab agama Masehi ini mulai pecah-belah.Dari zaman ke
zaman  mazhab-mazhab   itu   telah   terbagi-bagi   ke   dalam
sekta-sekta  dan  golongan-golongan. Setiap golongan mempunyai
pandangan dan  dasar-dasar  agama  sendiri  yang  bertentangan
dengan   golongan  lainnya.  Pertentangan-pertentangan  antara
golongan-golongan satu sama lain  karena  perbedaan  pandangan
itu telah mengakibatkan adanya permusuhan pribadi yang terbawa
oleh karena moral dan jiwa yang sudah  lemah,  sehingga  cepat
sekali   ia  berada  dalam  ketakutan,  mudah  terlibat  dalam
fanatisma yang buta dan dalam kebekuan. Pada masa-masa itu, di
antara golongan-golongan Masehi itu ada yang mengingkari bahwa
Isa  mempunyai  jasad  disamping  bayangan  yang  tampak  pada
manusia;  ada  pula  yang mempertautkan secara rohaniah antara
jasad dan ruhnya sedemikian rupa  sehingga  memerlukan  khayal
dan  pikiran  yang  begitu rumit untuk dapat menggambarkannya;
dan  disamping  itu  ada  pula  yang  mau  menyembah   Mariam,
sementara  yang  lain  menolak pendapat bahwa ia tetap perawan
sesudah melahirkan Almasih.

Terjadinya pertentangan antara  sesama  pengikut-pengikut  Isa
itu  adalah  peristiwa yang biasa terjadi pada setiap umat dan
zaman, apabila ia sedang mengalami kemunduran:  soalnya  hanya
terbatas pada teori kata-kata dan bilangan saja, dan pada tiap
kata  dan  tiap   bilangan   itu   ditafsirkan   pula   dengan
bermacam-macam arti, ditambah dengan rahasia-rahasia, ditambah
dengan warna-warni khayal yang sukar diterima akal  dan  hanya
dapat  dikunyah  oleh perdebatan-perdebatan sophisma yang kaku
saja.

Salah seorang pendeta gereja berkata:  “Seluruh  penjuru  kota
itu  diliputi  oleh  perdebatan.  Orang dapat melihatnya dalam
pasar-pasar, di tempat-tempat penjual pakaian, penukaran uang,
pedagang  makanan.  Jika  ada  orang  bermaksud hendak menukar
sekeping emas, ia akan  terlibat  ke  dalam  suatu  perdebatan
tentang  apa  yang  diciptakan  dan apa yang bukan diciptakan.
Kalau  ada  orang  hendak  menawar  harga   roti   maka   akan
dijawabnya:  Bapa  lebih  besar  dari putera dan putera tunduk
kepada Bapa. Bila ada orang yang bertanya tentang kolam  mandi
adakah  airnya  hangat,  maka pelayannya akan segera menjawab:
“Putera telah diciptakan dari yang tak ada.”

Tetapi kemunduran yang telah menimpa agama Masehi sehingga  ia
terpecah-belah  kedalam  golongan-golongan dan sekta-sekta itu
dari segi politik  tidak  begitu  besar  pengaruhnya  terhadap
Kerajaan   Rumawi.   Kerajaan   itu   tetap  kuat  dan  kukuh.
Golongan-golongan itupun tetap hidup dibawah naungannya dengan
tetap  adanya  semacam  pertentangan  tapi  tidak sampai orang
melibatkan diri kedalam polemik teologi atau  sampai  memasuki
pertemuan-pertemuan  semacam  itu  yang  pernah  diadakan guna
memecahkan  sesuatu  masalah.  Suatu  keputusan  yang   pernah
diambil  oleh  suatu  golongan  tidak sampai mengikat golongan
yang  lain.  Dan  Kerajaanpun  telah  pula  melindungi   semua
golongan  itu  dan  memberi kebebasan kepada mereka mengadakan
polemik, yang  sebenarnya  telah  menambah  kuatnya  kekuasaan
Kerajaan    dalam   bidang   administrasi   tanpa   mengurangi
penghormatannya  kepada   agama.   Setiap   golongan   jadinya
bergantung  kepada  belas  kasihan penguasa, bahkan ada dugaan
bahwa golongan itu menggantungkan diri kepada adanya pengakuan
pihak yang berkuasa itu.

Sikap  saling  menyesuaikan diri di bawah naungan Imperium itu
itulah pula yang menyebabkan  penyebaran  agama  Masehi  tetap
berjalan dan dapat diteruskan dari Mesir dibawah Rumawi sampai
ke  Ethiopia  yang  merdeka  tapi   masih   dalam   lingkungan
persahabatan  dengan  Rumawi.  Dengan  demikian  ia  mempunyai
kedudukan yang sama kuat di sepanjang Laut  Merah  seperti  di
sekitar  Laut  Tengah itu. Dari wilayah Syam ia menyeberang ke
Palestina. Penduduk Palestina dan penduduk Arab  Ghassan  yang
pindah ke sana telah pula menganut agama itu, sampai ke pantai
Furat, penduduk Hira, Lakhmid dan Mundhir yang berpindah  dari
pedalaman  sahara  yang  tandus  ke  daerah-daerah  subur juga
demikian,  yang  selanjutnya  mereka  tinggal  di  daerah  itu
beberapa  lama  untuk kemudian hidup di bawah kekuasaan Persia
Majusi.

Dalam pada itu kehidupan Majusi di Persia telah pula mengalami
kemunduran  seperti  agama Masehi dalam Imperium Rumawi. Kalau
dalam agama Majusi menyembah api  itu  merupakan  gejala  yang
paling  menonjol, maka yang berkenaan dengan dewa kebaikan dan
kejahatan  pengikut-pengikutnya  telah   berpecah-belah   juga
menjadi  golongan-golongan  dan  sekta-sekta pula. Tapi disini
bukan  tempatnya  menguraikan  semua  itu.  Sungguhpun  begitu
kekuasaan  politik  Persia  tetap kuat juga. Polemik keagamaan
tentang  lukisan  dewa  serta  adanya  pemikiran  bebas   yang
tergambar   dibalik  lukisan  itu,  tidaklah  mempengaruhinya.
Golongan-golongan agama yang berbeda-beda itu semua berlindung
di  bawah  raja Persia. Dan yang lebih memperkuat pertentangan
itu ialah karena memang sengaja digunakan sebagai  suatu  cara
supaya  satu  dengan  yang  lain saling berpukulan, atas dasar
kekuatiran, bila salah satunya menjadi kuat,  maka  Raja  atau
salah satu golongan itu akan memikul akibatnya.

Setelah surat Kaisar sampai ke tangan Najasyi, ia  mengirimkan

bersama  orang  Yaman  itu  –  yang  membawa surat – sepasukan

tentara di bawah pimpinan Aryat (Harith) dan Abraha  al-Asyram

salah  seorang prajuritnya. Aryat menyerbu Kerajaan Yaman atas

nama penguasa Abisinia. Ia  memerintah  Yaman  ini  sampai  ia

dibunuh  oleh  Abraha yang kemudian menggantikan kedudukannya.

Abraha inilah  yang  memimpin  pasukan  gajah,  dan  dia  yang

kemudian  menyerbu  Mekah  guna  menghancurkan  Ka’bah  tetapi

gagal, seperti yang akan terlihat nanti dalam pasal berikut.

 

Anak-anak Abraha  kemudian  menguasai  Yaman  dengan  tindakan

sewenang-wenang.  Melihat  bencana  yang  begitu  lama menimpa

penduduk, Saif bin Dhi Yazan  pergi  hendak  menemui  Maharaja

Rumawi.  Ia mengadukan hal itu kepadanya dan memintanya supaya

mengirimkan penguasa lain dan Rumawi ke Yaman.  Tetapi  karena

adanya perjanjian persekutuan antara Kaisar Yustinianus dengan

Najasyi tidak mungkin ia dapat memenuhi  permintaan  Saif  bin

Dhi  Yazan  itu.  Oleh karena itu Saif meninggalkan Kaisar dan

pergi  menemui  Nu’man  bin’l-Mundhir  selaku  Gubernur   yang

diangkat oleh Kisra untuk daerah Hira dan sekitarnya di Irak.3

 

Nu’man  dan  Saif  bin Dhi Yazan bersama-sama datang menghadap

Kisra Parvez. Waktu itu ia sedang duduk dalam Ruangan  Resepsi

(Iwan Kisra) yang megah dihiasi oleh lukisan-lukisan bimasakti

pada bagian tahta itu. Di tempat musim  dinginnya  bagian  ini

dikelilingi  dengan  tabir-tabir dari bulu binatang yang mewah

sekali. Di tengah-tengah itu bergantungan  lampu-lampu  kendil

terbuat  daripada  perak  dan  emas dan diisi penuh dengan air

tawar. Di atas tahta itulah  terletak  mahkotanya  yang  besar

berhiaskan  batu  delima, kristal dan mutiara bertali emas dan

perak, tergantung dengan rantai dari  emas  pula.  Ia  sendiri

memakai  pakaian serba emas. Setiap orang yang memasuki tempat

itu akan merasa terpesona  oleh  kemegahannya.  Demikian  juga

halnya dengan Saif bin Dhi Yazan.

 

Kisra   menanyakan   maksud   kedatangannya  itu  dan  Saifpun

bercerita tentang kekejaman Abisinia di Yaman. Sungguhpun pada

mulanya Kisra Parvez ragu-ragu, tetapi kemudian ia mengirimkan

juga pasukannya di bawah pimpinan Wahraz (Syahrvaraz?),  salah

seorang  keluarga  ningrat  Persia  yang paling berani. Persia

telah  mendapat  kemenangan  dan  orang-orang  Abisinia  dapat

diusir dari Yaman yang sudah didudukinya selama 72 tahun itu.

 

Sejak  itulah  Yaman  berada  di  bawah  kekuasaan Persia, dan

ketika Islam  lahir  seluruh  daerah  Arab  itu  berada  dalam

naungan agama baru ini.

 

Akan  tetapi  orang-orang asing yang telah menguasai Yaman itu

tidak langsung di bawah kekuasaan Raja  Persia.  Terutama  hal

itu  terjadi  setelah  Syirawih  (Shiruya  Kavadh II) membunuh

ayahnya, Kisra Parvez, dan dia sendiri  menduduki  takhta.  Ia

membayangkan  –  dengan  pikirannya yang picik itu bahwa dunia

dapat  dikendalikan  sekehendaknya   dan   bahwa   kerajaannya

membantu  memenuhI  kehendaknya  yang sudah hanyut dalam hidup

kesenangan itu. Masalah-masalah kerajaan  banyak  sekali  yang

tidak  mendapat  perhatian karena dia sudah mengikuti nafsunya

sendiri. Ia pergi memburu dalam  suatu  kemewahan  yang  belum

pernah   terjadi  Ia  berangkat  diiringi  oleh  pemuda-pemuda

ningrat berpakaian merah, kuning  dan  lembayung,  dikelilingi

oleh pengiring-pengiring yang membawa burung elang dan harimau

yang sudah dijinakkan dan ditutup moncongnya; oleh budak-budak

yang  membawa  wangi-wangian, oleh pengusir-pengusir lalat dan

pemain-pemain musik. Supaya merasa dirinya dalam suasana musim

semi  sekalipun  sebenarnya  dalam musim dingin yang berat, ia

beserta  rombongannya  duduk  di  atas  permadani  yang  lebar

dilukis  dengan  lorong-lorong, ladang dan kebun yang ditanami

bunga-bungaan   aneka   warna,   dan   dilatarbelakangi   oleh

semak-semak, hutan hijau serta sungai-sungai berwarna perak.

 

Tetapi    sungguhpun    Syirawih    begitu    jauh   mengikuti

kesenangannya,  kerajaan  Persia  tetap  dapat  mempertahankan

kemegahannya,  dan  tetap  merupakan  lawan yang kuat terhadap

kekuasaan Bizantium dan penyebaran Kristen.  Sekalipun  dengan

naik   tahtanya   Syirawih   ini   telah  mengurangi  kejayaan

kerajaannya, ia telah memberi kesempatan kepada kaum  Muslimin

memasuki negerinya dan menyebarkan Islam.

 

Yaman  yang telah dijadikan gelanggang pertentangan sejak abad

ke-4 itu sebenarnya telah meninggalkan bekas yang dalam sekali

dalam   sejarah   Semenanjung   Arab   dari   segi   pembagian

penduduknya.  Disebutkan  bahwa  Bendungan  Ma’rib  yang  oleh

suku-bangsa   Himyar   telah   dimanfaatkan  untuk  keuntungan

negerinya, telah hancur pula dilanda banjir besar.  Disebabkan

oleh  adanya  pertentangan  yang  terus-menerus  itu, lalailah

mereka  yang  harus  selalu   mengawasi   dan   memeliharanya.

Bendungan  itu  lapuk  dan  tidak  tahan  lagi menahan banjir.

Dikatakan juga, bahwa setelah  Rumawi  melihat  Yaman  menjadi

pusat  pertentangan antara kerajaannya dengan Persia dan bahwa

perdagangannya  terancam  karena   pertentangan   itu,   iapun

menyiapkan  armadanya  menyeberangi  Laut Merah – antara Mesir

dengan  negeri-negeri  Timur  yang   jauh   –   guna   menarik

perdagangan  yang  dibutuhkan  oleh negerinya. Dengan demikian

tidak perlu lagi ia menempuh jalan kafilah.

 

Mengenai peristiwanya, ahli-ahli  sejarah  sependapat,  tetapi

mengenai  sebab  terjadinya  peristiwa  itu  mereka  berlainan

pendapat. Peristiwanya ialah mengenai pindahnya kabilah Azd di

Yaman  ke  Utara.  Semua  mereka sependapat tentang kepindahan

ini,  sekalipun  sebagian  menghubungkannya   dengan   sepinya

beberapa kota di Yaman karena mundurnya perdagangan yang biasa

melalui tempat  itu.  Yang  lain  menghubung-hubungkan  kepada

rusaknya   bendungan   Ma’rib,   sehingga   banyak  di  antara

kabilah-kabilah yang pindah karena takut binasa. Tetapi apapun

juga  kejadiannya, namun adanya imigrasi ini telah menyebabkan

Yaman jadi  berhubungan  dengan  negeri-negeri  Arab  lainnya,

suatu  hubungan keturunan dan percampuran yang sampai sekarang

masih dicoba oleh para sarjana menyelidikinya.

 

Apabila sistem politik di Yaman sudah  menjadi  kacau  seperti

yang  dapat  kita  saksikan, yang disebabkan oleh keadaan yang

menimpa  negeri  itu  serta  dijadikannya  tempat  itu   medan

pertarungan,  maka  struktur  politik serupa itu tidak dikenal

pada beberapa  negeri  Semenanjung  Arab  lainnya  waktu  itu.

Segala  macam  sistem yang dapat dianggap sebagai suatu sistem

politik  seperti  pengertian  kita   sekarang   atau   seperti

pengertian  negara-negara  yang  sudah  maju pada masa itu, di

daerah-daerah  seperti  Tihama,  Hijaz,  Najd  dan   sepanjang

dataran  luas  yang  meliputi  negeri-negeri  Arab, pengertian

demikian itu belum dikenal. Anak negeri pada masa  itu  bahkan

sampai  sekarang adalah penduduk pedalaman yang tidak biasa di

kota-kota. Mereka tidak betah tinggal menetap di suatu tempat.

Yang   mereka   kenal   hanyalah   hidup   mengembara  selalu,

berpindah-pindah mencari padang rumput dan menuruti  keinginan

hatinya.   Mereka   tidak  mengenal  hidup  cara  lain  selain

pengembaraan itu.

 

Seperti  juga  ditempat-tempat  lain,  disinipun  dasar  hidup

pengembaraan  itu  ialah  kabilah. Kabilah-kabilah yang selalu

pindah dan mengembara itu tidak mengenal suatu peraturan  atau

tata-cara  seperti  yang  kita  kenal.  Mereka  hanya mengenal

kebebasan pribadi, kebebasan keluarga  dan  kebebasan  kabilah

yang  penuh.  Sedang  orang  kota,  atas  nama tata-tertib mau

mengalah  dan  membuang  sebagian  kemerdekaan  mereka   untuk

kepentingan  masyarakat  dan  penguasa,  sebagai  imbalan atas

ketenangan  dan  kemewahan  hidup   mereka.   Sedang   seorang

pengembara  tidak  pedulikan  kemewahan,  tidak  betah  dengan

ketenangan hidup menetap, juga tidak tertarik kepada apapun  –

seperti  kekayaan  yang  menjadi  harapan  orang kota – selain

kebebasannya yang mutlak. Ia hanya mau hidup  dalam  persamaan

yang    penuh    dengan    anggota-anggota   kabilahnya   atau

kabilah-kabilah  lain  sesamanya.  Dasar  kehidupannya   ialah

seperti  makhluk-makhluk lain, mau survive, mau bertahan terus

sehingga sesuai dengan kaidah-kaidah kehormatannya yang  sudah

ditanamkan dalam hidup mengembara yang serba bebas itu.

 

Oleh  karena  itu,  kaum  pengembara  tidak  menyukai tindakan

ketidak adilan  yang  ditimpakan  kepada  mereka.  Mereka  mau

melawannya   mati-matian,   dan  kalau  tidak  dapat  melawan,

ditinggalkannya  tempat  tinggal  mereka   itu,   dan   mereka

mengembara lagi ke seluruh jazirah, bila memang terpaksa harus

demikian.

 

Juga itu pula sebabnya, perang adalah jalan yang paling  mudah

bagi  kabilah-kabilah  ini bila harus juga timbul perselisihan

yang tidak mudah  diselesaikan  dengan  cara  yang  terhormat.

Karena  bawaan  itu  juga, maka tumbuhlah di kalangan sebagian

besar kabilah-kabilah itu sifat-sifat harga diri,  keberanian,

suka   tolong-menolong,   melindungi   tetangga   serta  sikap

memaafkan sedapat mungkin dan semacamnya. Sifat-sifat ini akan

makin   kuat   apabila   semakin  dekat  ia  kepada  kehidupan

pedalaman, dan akan makin  hilang  apabila  semakin  dekat  ia

kepada kehidupan kota.

 

Seperti kita sebutkan, karena faktor-faktor ekonomi juga, baik

Rumawi maupun Persia, hanya merasa tertarik kepada Yaman  saja

dari  antara jazirah lainnya yang memang tidak mau tunduk itu.

Mereka lebih  suka  meninggalkan  tanah  air  daripada  tunduk

kepada  perintah.  Baik  pribadi-pribadi  atau kabilah-kabilah

tidak akan taat kepada  peraturan  apapun  yang  berlaku  atau

kepada lembaga apapun yang berkuasa.

 

Sifat-sifat  pengembaraan  itu  cukup mempengaruhi daerah yang

kecil-kecil yang tumbuh  di  sekitar  jaziarah  karena  adanya

perdagangan  para  kafilah, seperti yang sudah kita terangkan.

Daerah-daerah ini dipakai oleh para  pedagang  sebagai  tempat

beristirahat  sesudah  perjalanan  yang  begitu meletihkan. Di

situ mereka bertemu dengan tempat-tempat  pemujaan  sang  dewa

guna  memperoleh  keselamatan  bagi  mereka  serta  menjauhkan

marabahaya gurun sahara serta mengharapkan perdagangan  mereka

selamat sampai di tempat tujuan.

 

Kota-kota  seperti  Mekah, Ta’if, Yathrib dan yang sejenis itu

seperti wahah-wahah (oase) yang terserak di celah-celah gunung

atau   gurun   pasir,   terpengaruh   juga   oleh  sifat-sifat

pengembaraan  demikian  itu.  Dalam  susunan   kabilah   serta

cabang-cabangnya,    perangai   hidup,   adat-istiadat   serta

kebenciannya terhadap segala yang membatasi kebebasannya lebih

dekat kepada cara hidup pedalaman daripada kepada cara-cara di

kota, sekalipun mereka dipaksa oleh sesuatu  cara  hidup  yang

menetap, yang tentunya tidak sama dengan cara-hidup pedalaman.

Dalam pembicaraan tentang Mekah dan Yathrib pada pasal berikut

ini akan terlihat agak lebih terperinci.

 

Lingkungan  masyarakat  dalam  alam demikian ini serta keadaan

moral, politik dan sosial  yang  ada  pada  mereka,  mempunyai

pengaruh   yang   sama   terhadap  cara  beragamanya.  Melihat

hubungannya dengan agama Kristen  Rumawi  dan  Majusi  Persia,

adakah  Yaman  dapat  terpengaruh  oleh  kedua  agama  itu dan

sekaligus mempengaruhi kedua agama tersebut  di  jazirah  Arab

lainnya?  Ini juga yang terlintas dalam pikiran kita, terutama

mengenai agama Kristen. Misi Kristen yang ada  pada  masa  itu

sama  giatnya  seperti  yang  sekarang  dalam mempropagandakan

agama. Pengaruh pengertian agama dalam jiwa serta  cara  hidup

kaum  pengembara tidak sama dengan orang kota. Dalam kehidupan

kaum pengembara manusia berhubungan dengan alam, ia  merasakan

adanya  wujud  yang  tak  terbatas  dalam segala bentuknya. Ia

merasa perlu mengatur suatu cara hidup antara  dirinya  dengan

alam  dengan  ketak-terbatasannya  itu. Sedang bagi orang kota

ketak-terbatasan  itu   sudah   tertutup   oleh   kesibukannya

hari-hari,   oleh   adanya  perlindungan  masyarakat  terhadap

dirinya  sebagai  imbalan  atas  kebebasannya  yang  diberikan

sebagian  kepada  masyarakat, serta kesediaannya tunduk kepada

undang-undang  penguasa  supaya  memperoleh  jaminan  dan  hak

perlindungan.   Hal  ini  menyebabkannya  tidak  merasa  perlu

berhubungan dengan yang di luar penguasa itu, dengan  kekuatan

alam  yang begitu dahsyat terhadap kehidupan manusia. Hubungan

jiwa  dengan  unsur-unsur  alam  yang   di   sekitarnya   jadi

berkurang.

 

Dalam  keadaan serupa ini, apakah yang telah diperoleh Kristen

dengan kegiatannya yang begitu besar sejak abad-abad permulaan

dalam  menyebarkan  ajaran  agamanya  itu?  Barangkali soalnya

hanya akan sampai di  situ  saja  kalau  tidak  karena  adanya

soal-soal   lain  yang  menyebabkan  negeri-negeri  Arab  itu,

termasuk  Yaman,   tetap   bertahan   pada   paganisma   agama

nenek-moyangnya,  dan  hanya  beberapa  kabilah  saja yang mau

menerima agama Kristen.

 

Manifestasi peradaban dunia yang paling jelas pada masa itu  –

seperti  yang  sudah  kita saksikan – berpusat di sekitar Laut

Tengah  dan  Laut  Merah.  Agama-agama  Kristen   dan   Yahudi

bertetangga  begitu  dekat  sekitar tempat itu. Kalau keduanya

tidak  memperlihatkan  permusuhan  yang  berarti,  juga  tidak

memperlihatkan  persahabatan  yang  berarti  pula. Orang-orang

Yahudi masa itu dan sampai sekarang juga masih menyebut-nyebut

adanya  pembangkangan  dan  perlawanan  Nabi  Isa kepada agama

mereka. Dengan diam-diam mereka bekerja  mau  membendung  arus

agama  Kristen  yang telah mengusir mereka dari Palestina, dan

yang masih  berlindung  dibawah  panji  Imperium  Rumawi  yang

membentang luas itu.

 

Orang-orang   Yahudi  di  negeri-negeri  Arab  merupakan  kaum

imigran yang besar, kebanyakan mereka  tinggal  di  Yaman  dan

Yathrib.  Di  samping  itu  kemudian  agama Majusi (Mazdaisma)

Persia tegak menghadapi arus  kekuatan  Kristen  supaya  tidak

sampai  menyeberangi Furat (Euphrates) ke Persia, dan kekuatan

moril demikian itu didukung oleh  keadaan  paganisma  di  mana

saja  ia  berada. Jatuhnya Rumawi dan hilangnya kekuasaan yang

di tangannya, ialah sesudah pindahnya  pusat  peradaban  dunia

itu ke Bizantium.

 

Gejala-gejala  kemunduran berikutnya ialah bertambah banyaknya

sekta-sekta Kristen yang sampai menimbulkan  pertentangan  dan

peperangan antara sesama mereka. Ini membawa akibat merosotnya

martabat iman yang tinggi ke dalam kancah  perdebatan  tentang

bentuk  dan  ucapan,  tentang  sampai di mana kesucian Mariam:

adakah ia yang lebih utama dari anaknya Isa Almasih atau  anak

yang  lebih  utama dari ibu – suatu perdebatan yang terjadi di

mana-mana, suatu pertanda yang akan membawa  akibat  hancurnya

apa yang sudah biasa berlaku.

 

Ini  tentu  disebabkan  oleh karena isi dibuang dan kulit yang

diambil, dan terus menimbun kulit itu  di  atas  isi  sehingga

akhirnya  mustahil  sekali  orang  akan dapat melihat isi atau

akan menembusi timbunan kulit itu.

 

Apa yang telah menjadi pokok  perdebatan  kaum  Nasrani  Syam,

lain  lagi dengan yang menjadi perdebatan kaum Nasrani di Hira

dan Abisinia. Dan orang-orang Yahudipun,  melihat  hubungannya

dengan  orang-orang  Nasrani,  tidak  akan berusaha mengurangi

atau menenteramkan perdebatan semacam  itu.  Oleh  karena  itu

sudah wajar pula orang-orang Arab yang berhubungan dengan kaum

Nasrani Syam dan Yaman  dalam  perjalanan  mereka  pada  musim

dingin  atau  musim panas atau dengan orang-orang Nasrani yang

datang dari Abisinia, tetap tidak akan sudi memihak salah satu

di  antara  golongan-golongan  itu.  Mereka  sudah puas dengan

kehidupan agama berhala yang  ada  pada  mereka  sejak  mereka

dilahirkan, mengikuti cara hidup nenek-moyang mereka.

 

Oleh  karena  itu, kehidupan menyembah berhala itu tetap subur

di kalangan mereka, sehingga pengaruh demikian  inipun  sampai

kepada  tetangga-tetangga  mereka  yang  beragama  Kristen  di

Najran  dan  agama  Yahudi  di  Yathrib,  yang  pada   mulanya

memberikan   kelonggaran   kepada   mereka,   kemudian   turut

menerimanya. Hubungan  mereka  dengan  orang-orang  Arab  yang

menyembah  berhala  untuk  mendekatkan  diri  kepada Tuhan itu

baik-baik saja.

 

Yang menyebabkan orang-orang  Arab  itu  tetap  bertahan  pada

paganismanya  bukan  saja  karena  ada  pertentangan di antara

golongan-golongan Kristen.  Kepercayaan  paganisma  itu  masih

tetap  hidup  di  kalangan  bangsa-bangsa  yang sudah menerima

ajaran  Kristen.  Paganisma  Mesir  dan  Yunani  masih   tetap

berpengaruh  ditengah-tengah  pelbagai  mazhab  yang  beraneka

macam dan di  antara  pelbagai  sekta-sekta  Kristen  sendiri.

Aliran   Alexandria   dan   filsafat  Alexandria  masih  tetap

berpengaruh,  meskipun  sudah  banyak  berkurang  dibandingkan

dengan   masa  Ptolemies  dan  masa  permulaan  agama  Masehi.

Bagaimanapun juga pengaruh itu tetap  merasuk  ke  dalam  hati

mereka.   Logikanya   yang  tampak  cemerlang  sekalipun  pada

dasarnya  masih  bersifat  sofistik  –  dapat   juga   menarik

kepercayaan   paganisma   yang   polytheistik,   yang   dengan

kecintaannya itu dapat didekatkan kepada kekuasaan manusia.

 

Saya kira inilah yang lebih  kuat  mengikat  jiwa  yang  masih

lemah itu pada paganisma, dalam setiap zaman, sampai saat kita

sekarang ini. Jiwa  yang  lemah  itu  tidak  sanggup  mencapai

tingkat  yang  lebih  tinggi,  jiwa yang akan menghubungkannya

pada semesta alam sehingga ia dapat memahami  adanya  kesatuan

yang menjelma dalam segala yang lebih tinggi, yang sublim dari

semua yang ada dalam wujud ini,  menjelma  dalam  Wujud  Tuhan

Yang  Maha  Esa.  Kepercayaan  demikian  itu hanya sampai pada

suatu manifestasi alam saja  seperti matahari, bulan atau  api

misalnya.  Lalu  tak  berdaya  lagi mencapai segala yang lebih

tinggi, yang akan memperlihatkan adanya manifestasi alam dalam

kesatuannya itu.

 

Bagi  jiwa  yang lemah ini cukup hanya dengan berhala saja. Ia

akan membawa gambaran yang  masih  kabur  dan  rendah  tentang

pengertian  wujud  dan  kesatuannya.  Dalam hubungannya dengan

berhala itu lalu dilengkapi lagi dengan segala gambaran kudus,

yang  sampai  sekarang  masih  dapat  kita saksikan di seluruh

dunia, sekalipun dunia yang mendakwakan dirinya  modern  dalam

ilmu pengetahuan dan sudah maju pula dalam peradaban. Misalnya

mereka yang pernah berziarah ke gereja Santa Petrus  di  Roma,

mereka  melihat  kaki  patung  Santa  Petrus yang didirikan di

tempat  itu   sudah   bergurat-gurat   karena   diciumi   oleh

penganut-penganutnya,  sehingga  setiap  waktu terpaksa gereja

memperbaiki kembali mana-mana yang rusak.

 

Melihat semua itu kita dapat memaklumi. Mereka belum nmendapat

petunjuk  Tuhan  kepada  iman  yang  sebenarnya Mereka melihat

pertentangan-pertentangan kaum Kristen yang  menjadi  tetangga

mereka  serta  cara-cara  hidup  paganisma yang masih ada pada

mereka, di tengah-tengah mereka sendiri yang  masih  menyembah

berhala  itu  sebagai warisan dari nenek-moyang mereka. Betapa

kita tak akan memaafkan mereka.  Situasi  demikian  ini  sudah

begitu  berakar  di  seluruh  dunia, tak putus-putusnya sampai

saat ini, dan saya kira memang  tidak  akan  pernah  berakhir.

Kaum  Muslimin  dewasa  inipun  membiarkan paganisma itu dalam

agama mereka, agama yang datang  hendak  menghapus  paganisma,

yang  datang  hendak  menghilangkan  segala penyembahan kepada

siapa saja selain kepada Allah Yang Maha Esa.

 

Cara-cara penyembahan  berhala  orang-orang  Arab  dahulu  itu

banyak sekali macamnya. Bagi kita yang mengadakan penyelidikan

dewasa ini sukar sekali akan dapat mengetahui  seluk-beluknya.

Nabi  sendiri  telah  menghancurkan  berhala-berhala  itu  dan

menganjurkan  para  sahabat  menghancurkannya  di  mana   saja

adanya.  Kaum  Muslimin  sudah  tidak  lagi bicara tentang itu

sesudah semua  yang  berhubungan  dengan  pengaruh  itu  dalam

sejarah  dan  lektur  dihilangkan.  Tetapi apa yang disebutkan

dalam Quran dan yang dibawa oleh ahli-ahli sejarah dalam  abad

kedua  Hijrah  – sesudah kaum Muslimin tidak lagi akan tergoda

karenanya – menunjukkan, bahwa sebelum Islam  paganisma  dalam

bentuknya yang pelbagai macam, mempunyai tempat yang tinggi.

 

Di    samping    itu    menunjukkan   pula   bahwa   kekudusan

berhala-berhala itu bertingkat-tingkat adanya. Setiap  kabilah

atau  suku mempunyai patung sendiri sebagai pusat penyembahan.

Sesembahan-sesembahan zaman jahiliah inipun berbeda-beda  pula

antara  sebutan  shanam (patung), wathan (berhala) dan nushub.

Shanam ialah dalam bentuk manusia dibuat dari logam atau kayu,

Wathan  demikian  juga  dibuat dari batu, sedang nushub adalah

batu karang tanpa  suatu  bentuk  tertentu.  Beberapa  kabilah

melakukan    cara-cara   ibadahnya   sendiri-sendiri.   Mereka

beranggapan batu  karang  itu  berasal  dari  langit  meskipun

agaknya  itu adalah batu kawah atau yang serupa itu. Di antara

berhala-berhala yang baik buatannya agaknya yang berasal  dari

Yaman.  Hal  ini tidak mengherankan. Kemajuan peradaban mereka

tidak dikenal di Hijaz, Najd atau  di  Kinda.  Sayang  sekali,

buku-buku   tentang   berhala   ini  tidak  melukiskan  secara

terperinci bentuk-bentuk berhala itu,  kecuali  tentang  Hubal

yang  dibuat  dari  batu  akik dalam bentuk manusia, dan bahwa

lengannya pernah rusak dan oleh  orang-orang  Quraisy  diganti

dengan  lengan dari emas. Hubal ini ialah dewa orang Arab yang

paling besar dan diletakkan dalam Ka’bah di Mekah. Orang-orang

dari semua penjuru jazirah datang berziarah ke tempat itu.

 

Tidak   cukup  dengan  berhala-berhala  besar  itu  saja  buat

orang-orang Arab guna menyampaikan sembahyang  dan  memberikan

kurban-kurban,  tetapi  kebanyakan  mereka  itu mempunyai pula

patung-patung dan berhala-berhala dalam  rumah  masing-masing.

Mereka  mengelilingi  patungnya  itu  ketika  akan keluar atau

sesudah kembali pulang, dan dibawanya  pula  dalam  perjalanan

bila  patung  itu  mengijinkan ia bepergian. Semua patung itu,

baik yang ada dalam  Ka’bah  atau  yang  ada  disekelilingnya,

begitu  juga  yang  ada  di  semua  penjuru  negeri  Arab atau

kabilah-kabilah dianggap sebagai perantara antara  penganutnya

dengan  dewa  besar.  Mereka beranggapan penyembahannya kepada

dewa-dewa itu sebagai pendekatan kepada  Tuhan  dan  menyembah

kepada  Tuhan  sudah  mereka  lupakan  karena  telah menyembah

berhala-berhala itu.

 

Meskipun Yaman  mempunyai  peradaban  yang  paling  tinggi  di

antara  seluruh  jazirah  Arab, yang disebabkan oleh kesuburan

negerinya serta pengaturan pengairannya yang  baik,  namun  ia

tidak   menjadi  pusat  perhatian  negeri-negeri  sahara  yang

terbentang  luas  itu,  juga  tidak  menjadi  pusat  keagamaan

mereka.  Tetapi  yang menjadi pusat adalah Mekah dengan Ka’bah

sebagai rumah Ismail. Ke tempat itu orang  berkunjung  dan  ke

tempat  itu  pula  orang  melepaskan pandang. Bulan-bulan suci

sangat dipelihara melebihi tempat lain.

 

Oleh karena itu, dan sebagai markas perdagangan  jazirah  Arab

yang istimewa, Mekah dianggap sebagai ibukota seluruh jazirah.

Kemudian takdirpun menghendaki pula ia menjadi tanah kelahiran

Nabi   Muhammad,   dan  dengan  demikian  ia  menjadi  sasaran

pandangan dunia sepanjang zaman. Ka’bah  tetap  disucikan  dan

suku  Quraisy masih menempati kedudukan yang tinggi, sekalipun

mereka semua tetap sebagai orang-orang Badwi yang kasar  sejak

berabad-abad lamanya.

 

Catatan kaki:

 

1 Dikutip oleh Sir Muir dalam The Life of Mohammad, p.xc.

2 Cerita demikian terdapat dalam beberapa buku sejarah.

Encylopedia Britannica juga menyebutnya, dan dikutip oleh

penulis-penulis buku Historian’s History of the World dan juga

dijadikan pegangan oleh Emile Derminghem dalam la Vie de

Mahomet. Akan tetapi At-Tabari menceritakan melalui Hisyam ibn

Muhammad bahwa setelah orang Yaman itu pergi meminta bantuan

Najasyi atas perbuatan Dhu Nuwas serta menjelaskan apa yang

telah dilakukannya terhadap orang-orang Kristen oleh pembela

agama Yahudi itu dan memperlihatkan sebuah Injil yang sudah

sebagian dimakan api, Najasyi berkata: “Tenaga manusia di sini

banyak, tapi aku tidak punya kapal. Sekarang aku menulis surat

kepada Kaisar supaya mengirimkan kapal dan dengan itu akan

kukirimkan pasukanku.” Lalu ia menulis surat kepada Kaisar

dengan melampirkan Injil yang sudah terbakar. Dan menambahkan:

“Hisyam ibn Muhammad menduga, bahwa setelah kapal-kapal itu

sampai ke tempat Najasyi, pasukannyapun dinaikkan dan

berangkat ke pantai Mandab.” Lihat Tarikh’t-Tabari cetakan

Al-Husainia, vol. 2, p. 106 dan 108.

3 Beberapa keterangan dalam buku-buku sejarah berbeda-beda

tentang sebab penyerbuan Abisinia (Habasya) ini ke Yaman.

Keterangan itu mengatakan, bahwa hubungan dagang antara Arab

Musta’riba di Hijaz dengan Yaman dan Abisinia terus

berlangsung. Pada waktu itu pantai-pantai Habasya membentang

sepanjang Laut Merah lengkap dengan armada perdagangannya.

Karena kekayaan dan kesuburannya, Kerajaan Rumawi ingin sekali

menguasai Yaman. Aelius Galius penguasa (prefek) Kaisar Rumawi

di Mesir mengadakan persiapan. akan menyerbu Yaman. Pasukannya

dikerahkan menyeberangi Laut Merah ke Yaman dan juga menyerang

Najran. Tetapi karena adanya penyakit yang menyerang mereka.

Orang-orang Yaman mudah sekali mengusir mereka itu dan

merekapun kembali ke Mesir. Sesudah itupun Rumawõ

berturut-turut menyerang jazirah Arab di Yaman dan di luar

Yaman, tapi kenyataannya tidak lebih menguntungkan dan yang

pernah dilakukan oleh Galius. Saat itu Najasyi di Abisinia

merasa perlu mengadakan pembalasan terhadap Yaman yang telah

memaksakan agama Yahudi terhadap orangorang Rumawi yang

beragama Kristen. Pasukan Aryat dikerahkan menyerbu Yaman dan

berkuasa di tempat itu sampai pada waktu Persia datang

mengusir mereka

 

 

sumber:oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL

diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

 

Penerbit PUSTAKA JAYA

Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat

Cetakan Kelima, 1980

 

Seri PUSTAKA ISLAM No.1

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s